Tempointeraktif:
Sisa gaji pemain Arema Indonesia akan dilunasi pada Sabtu malam ini, 18 Juni 2011. Pembayaran gaji pemain akan diumumkan lewat jumpa pers di kantor Arema, Jalan Sultan Agung 9, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Sumber Tempo di “ring satu” Arema menginformasikan, jumpa pers tidak khusus membahas soal masih belum selesainya masalah legalitas kepengurusan Yayasan Arema dan PT Arema Indonesia, yang membuat rencana “perkawinan” Arema dan Grup Bakrie tertunda dari rencana semula pada Jumat malam kemarin. “Mungkin akan disampaikan soal pelunasan gaji pemain. Pak Rendra (Kresna) yang akan mengumumkannya,” kata sumber tersebut.
Rendra Kresna, Pembina Yayasan Arema, disebut sumber akan menggunakan duit pribadi untuk menalangi sisa setengah bulan gaji pemain musim ini, ditambah sisa 2,5 bulan gaji musim kompetisi Liga Super Indonesia 2009-2010. Manajemen ingin menepati janji memenuhi tanggung jawab mereka kepada pelatih, pemain senior dan pemain yunior, serta seluruh karyawan sebelum tenggat 19 Juni tiba.
Janji itu sudah disampaikan Rendra dan Ketua Yayasan Muhamad Nur di Restoran Batavia, Jalan Jakarta, Kota Malang, Kamis 2 Juni 2011. Namun, karena keterbatasan dana, maka gaji pemain dan pelatih yang diprioritaskan dulu.
Sedangkan utang gaji 3 bulan sudah dilunasi Muhamad Nur, berkat bantuan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko dan kelompok pengusaha temannya. Pembayaran gaji dilakukan di Balai Kota Batu pada Senin (13/6), mulai pukul 9 malam sampai Selasa dinihari, 14 Juni. Usai pemain, giliran tim pelatih yang dipimpin Miroslav Janu alias Miro akan menerima gaji pada Selasa pagi itu.
Tapi, Miro dan asistennya, Tony Ho, mendadak batal ke Batu karena dilarang Abriadi Muhara, asisten manajer merangkap Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan Arema dan Pelaksana Harian PT Arema Indonesia. Miro dan Tony dijanjikan akan mendapat pembayaran gaji dari Rendra. Padahal, dalam pertemuan di Restoran Batavia, Miro gencar memprotes dan menuntut Muhamad Nur untuk membayarkan gaji tim pelatih dan pemain.
Usai pembayaran gaji, Selasa siang itu juga, Pengawas Yayasan Arema Bambang Winarno mengumumkan pemberhentian sementara Muhamad Nur. Pemberhentian diumumkan di kantor Arema, dengan disaksikan sekitar 50 Aremania (suporter Arema) dan dua puluhan wartawan.
Rendra sendiri tidak menjawab pertanyaan seputar pembayaran gaji. Pesan pendek yang dikirim Tempo pada pukul 14.50 WIB tidak dijawab, tapi Bupati Malang itu justru menelepon Tempo pada pukul 16.13 WIB. “Nanti kira-kira jam 7 malam ini ada jumpa pers di kantor. Nanti dijelaskan, ya,” begitu kata Rendra.
Juru bicara Arema, Sudarmaji, juga mengonfirmasikan informasi serupa. Namun, Sudarmaji mengaku tak tahu subtansi materi yang akan disampaikan. “Tadi Pak Rendra hanya bilang tolong disampaikan kepada pers ada pertemuan di kantor pukul 18.00 WIB,” kata Sudarmaji, yang mengaku harus beristirahat karena sedang menderita diare.
Informasi terkini yang diterima Tempo dari seorang sumber lain adalah mundurnya Andi Darussalam Tabusalla (ADT) dari Arema. Andi sendiri sebenarnya sudah menyatakan ingin mundur dari Arema per Juli nanti atau seusai kompetisi LSI. Mundurnya ADT makin melapangkan jalan bagi Iwan Budianto, Ketua Badan Liga Amatir Indonesia.
Iwan bekas Ketua Umum Yayasan Arema di era kepemilikan Lucky Adrianda Zainal, berdasarkan Akta Nomor 4 (Akta Perubahan Susunan Pengurus Yayasan Arema) tanggal 11 November 2000. Akta dibuat notaris Raharti Asharto.
Iwan dipercaya menjadi penghubung Nirwan Bakrie dengan Arema. Seorang teman Iwan menginformasikan bahwa Iwan mengaku sudah mendapat mandat resmi dari Nirwan untuk berhubungan dengan Arema. Jika memakai ADT dikhawatirkan akan menjadi bumerang karena resistensi atau perlawanan dari Aremania masih tinggi.
“Tapi, ternyata kalkulasi mereka kayaknya meleset. Masuknya IB (akronim nama Iwan Budianto) justru menimbulkan reaksi keras di akar rumput Aremania. Aremania masih belum bisa melupakan kelakuan IB yang tinggal glanggang colong playu (bahasa Jawa: meninggalkan tanggung jawab) di saat Arema mengalami krisis berat. Tapi kita lihat saja perkembangannya, apakah dia bisa dipercaya mampu mengurusi Arema,” kata teman Iwan. Sementara Iwan sendiri tak mengangkat panggilan telepon Tempo.
sumber:tempointeraktif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar