Pages

Liga Profesional baru di Indonesia menurut AFC (Asian Football Confederation) :

1. Setiap tim harus terbebasdalam bantuan dana dari daerahnya.
2. Setiap tingkatan kasta liga harus berisikan maximal 18 tim .
3. Tim yang mendapatkan Peringkat satu sampai lima liga kasta tertinggi, diberikan dana oleh PSSI untuk beruji coba international melawan tim dari Jepang, Australia, UEA, Qatar, Saudi Arabia, Uzbekistan, Qatar, Cina, dan Korea Selatan (BUKAN ASEAN) .
4. Komdis PSSI harus “tegas” dan “sangat keras” terhadap pemain yang menghina dan memukul pemain lain, wasit, dan antar suporter tim .
5. Juara liga dan runner up, serta Juara Piala Liga, diwajibkan oleh PSSI sebagai lembaga tertinggi
untuk menjuarai AFC CUP dan Semifinal Asia Champion League .
6. Tim yang berkesempatan bermain di level Asia mewakili negara, diberi waktu recovery
dalam pertandingan liga lokal menjelang bertanding AFC CUP & Asia Champion League .
7. PSSI harus membantu fasilitas dan persiapan tim yang mewakili Indonesia berlaga di Asia .
8. Liga Kasta Tertinggi, harus pemain berusia 15 – 30 tahun, jika melebihi usia 30 tahun, pemain diwajibkan mengambil lisensi kepelatihan atau berlaga di kasta kedua atau dibawahnya .
9. Pemain asing harus berjumlah 3 kuota Eropa dan 1 kuota Asia .
10.PSSI harus menghentikan setiap tim selama 5 tahun, jika suatu tim melakukan suap dan pengaturan skor di semua kasta liga di Indonesia

11.Pelatih yang berprestasi mengantarkan tim Indonesia juara liga 4 kali dan juara piala liga 5
kali, berhak melatih Timnas Indonesia .
12.Uji Coba International klub  peringkat satu sampai dengan lima kasta tertinggi Indonesia wajib dilaksanakan dan diberikan dana oleh PSSI .
13. Pelatih harus berlisensi A AFC, dan Assisten Pelatih minimal berlisensi A AFC .
14. Wasit harus mengeluarkan kartu merah, apabila pemain menghina wasit atau memukul
lawan, bahkan melakukan hal yang sama pada wasit .
15. Wasit harus menghentikan pertandingan, apabila ada suporter yang memasuki stadion tanpa tiket dan memasuki lapangan karena apapun masalah yang disampaikan suporter .
16. Pemain yang bermaksud melakukan "kill time" dengan hal apapun wajib diberi kartu kuning .
17. Komisi Disiplin PSSI harus melakukan denda dan hukuman
larangan berlaga kepada pemain yang menghina dan memukul wasit ataupun lawan .
18. PSSI harus memberikan dana tambahan kepada tim yang berlaga di AFC CUP dan Asia
Champion League .
19. Bagi tim yang menjuarai AFC CUP PSSI wajib memberikan penghargaan khusus dan memberi
bonus kepada tim tersebut .
20. Tim yang berhasil mencapai Semifinal Asia Champion League, sesuai dengan target nyata PSSI,
berhak mendapatkan bonus dan penghargaan nyata dari PSSI sebagai federasi tertinggi .
21. Semua tim harus memiliki kelompok umur dari U 10 sampai U 21
22. Pelatih kelompok umur tim harus berlisensi A AFC atau B UEFA
23. PSSI wajib mengadakan pertandingan Liga U 10, U 12, U 14, U 17, U 19, dan U 21
24. Setiap Juara 1 - 3 Liga U 10 sampai U 21, diberikan kesempatan oleh PSSI dan Liga
untuk bertanding dalam kejuaraan ASIA dan dunia dalam semua ajang tingkat Asia dan Dunia,
sesuai dengan Young Professional League .
25. Liga kasta tertinggi sampai Divisi terbawah (amatir), berada dalam satu naungan "RESMI" PSSI,
sebagai Konfederasi tertinggi di Indonesia .

26. Sebagai Liga Professional, PSSI diwajibkan mentargetkan tim yang mewakili Indonesia di
Asia dapat menjuarai AFC CUP dan mencapai semifinal Asia Champion League setiap tahunnya .
27. Tidak ada diskriminasi dan pengaturan skor dalam semua
kasta dari tertinggi hingga divisi
terendah .

600 Aparat Gabungan Kawal Laga Perang Bintang

Sebanyak 600 aparat gabungan TNI dan Polri akan disiagakan di stadion Mandala, Kota Jayapura, Papua guna mengamankan jalannya pertandingan Perang Bintang, Persipura Jayapura melawan tim All Star Indonesia Super League (ISL), Rabu (29/6/2011).

Ketua Panpel Persipura, Tommy Mano, mengatakan pengamanan 600 personil itu guna mengantisipasi terjadinya ricuh, antar penonton. Sebab pada pertandingan tersebut diperkirakan 15 ribu lebih penonton akan memadati stadion Mandala. Saat ini, belasan ribu tiket tanda masuk yang dijual Panpel Persipura telah habis terjual.

“ Kami meminta sekira 600 personil gabungan TNI dan polri untuk disiagakan di stadion Mandala, Rabu besok,” ujar Mano.

Persipura Jayapura dijadwalkan bertanding melawan tim All Star ISL pada laga Perang Bintang yang berisikan pemain Timnas. Pertandingan eksebisi tersebut dilangsungkan sebelum moment penyerahan piala bagi juara ISL musim 2010/2011 yakni Persipura Jayapura.

Kas Hartadi : Team ISL All Star itu Cuma Gabungan Pemain Bagus , Bukan Tim Bagus

Pelatih Sriwijaya Football Club Kas Hartadi memilih tanpa beban menjalani pertandingan perang bintang melawan Tim All Star Liga Super Indonesia di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang, Minggu (15/7).

"Beban sebenarnya sudah hilang setelah menyelesaikan pertandingan terakhir liga yakni melawan Persib Bandung, Rabu (11/7). Saya mencoba untuk santai saja meski tetap serius menghadapi perang bintang ini," ujarnya di Palembang, Sabtu.

Menurut pelatih asal Solo itu, perang bintang sebagai ajang gengsi semata karena mempertemukan tim juara dengan kumpulan pemain bintang hasil jajak pendapat jutaan pencinta sepak bola Tanah Air.

"Tentunya akan lebih manis jika gelar juara musim ini disempurnakan dengan memenangkan pertandingan perang bintang. Tapi, saya tidak mau membebani pemain, malahan sangat ingin sekali memberikan kesempatan kepada pemain lapis kedua," ujarnya.

Ia mengharapkan "Laskar Wong Kito" tetap termotivasi untuk menang meski telah menasbihkan gelar liga musim ini.

Grafik permainan yang menanjak diharapkan mampu menekan permainan Tim All Star dikomandoi pelatih Persela Miroslav Janu.

"Motivasi hadiah dan prestise gelar juara dapat dijadikan pelecut semangat bagi pemain, apalagi tim yang dihadapi belum tentu sebaik namanya," katanya.

Dua puluh pemain bintang itu, menurut Kas, belum padu karena bukan sebuah tim yang utuh.

Pemain itu, untuk penjaga gawang ; Kurnia Meiga, I Made Wirawan, pemain belakang ; Zulkifli Syukur, Ricardo Salampessy, Victor Igbonefo, Fabiano Beltrame, Hamkah Hamzah, Jajang Sukmara, Supriyono.

Kemudian, pemain tengah ; Atep, Gustavo Lopez, Zah Rahan, M Ridwan, Ahmad Bustomi, Eka Ramdhani, dan pemain depan ; Fransisco Aldo Bareto, Bambang Pamungkas, Safee Sali, Alberto Goncalves, Alejandro costas.

"Mereka hanya gabungan pemain bagus, dan belum tentu padu secara tim. Inilah kesempatan Sriwijaya FC untuk membuktikan kualitas sebagai juara," ujarnya.Add caption

Piala AFF 2012 : Satu Grup dengan Malaysia , DEJAVU Merah Putih

Timnas Indonesia mendapat ujian berat saat menjalani Piala AFF 2012 di Thailand dan Malaysia, 24 November–22 Desember 2012. Skuad Merah Putih bercokol di Grup B bersama Singapura dan juara bertahan Malaysia seusai drawing di Bangkok, Thailand, kemarin.

Dalam drawingitu,Malaysia diplot sebagai tim paling disegani Indonesia.Maklum, mereka yang mengandaskan harapan Merah Putihmeraih gelar pertama akibat kalah di final Piala AFF 2010.Indonesia juga tak ingin meremehkan kekuatan Singapura serta runner-upbabak kualifikasi yang akan diperebutkan empat negara,yakni Timor Leste,Laos,Myanmar,dan Brunei Darussalam.

Yang jelas,pertemuan Indonesia dan Malaysia tahun ini merupakan deja vudua tahun lalu.Saat itu,Indonesia begitu fantastis ketika bertemu Harimau Malaya––julukan Malaysia––di fase penyisihan grup.Sayang,hegemoni tim Merah Putih tak berlanjut ketika bertemu kembali dengan Malaysia di final. Koordinator Timnas Indonesia Bob Hippy menilai,semua tim yang tergabung di Grup B memiliki kekuatan sama.

Untuk itulah,baik Malaysia,Singapura,dan satu lawan lagi yang belum diketahui memiliki peluang yang sama untuk lolos.“Semua lawan itu berat dan mempunyai kekuatan yang tidak berbeda jauh.Intinya,semua tim yang berada di Grup B memiliki peluang sama besarnya,”ungkap Bob,saat dihubungi kemarin. Selain memberikan sedikit penilaian tentang kekuatan calon-calon lawan di Grup B,pria yang juga menjabat sebagai anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI ini berharap tak ada lagi masalah dualisme kompetisi.

Dia menginginkan Indonesian Super League (ISL) dan Indonesian Premier League (IPL) bersatu.Jika keduanya bersatu,timnas Indonesia akan diisi pemainpemain yang komplet di ajang Piala AFF tahun ini. “Yang paling penting di ajang Piala AFF 2012 nanti,kami mempunyai stok pemain yang komplet.Saya berharap pemainpemain dari ISL dan IPL bisa kembali bersatu.Mereka bisa bersama bahumembahu membela timnas Indonesia,” ungkap Bob.

Harapan agar timnas Merah Putih berjaya di Piala AFF 2012 juga disampaikan bek Semen Padang Abdulrahman.Pemain yang menjadi bagian timnas Indonesia U-23 saat meraih medali perak SEA Games 2011 itu siap memberikan yang terbaik bagi Indonesia. Namun,jika ingin berhasil merealisasikan target itu,persiapan matang harus segera dilakukan.“Harapannya,insya Allah tahun ini timnas Indonesia bisa meraih gelar juara.

Sebab,Indonesia belum lagi menjuarai turnamen itu.Dan,jika ingin berbicara banyak di Piala AFF 2012,tentu harus melakukan segala macam persiapan tim dari jauh-jauh hari,”ungkap Abdulrahman. Abdulrahman pun meminta semua pemain yang dipanggil membela panji Merah Putihmenghadapi Piala AFF 2012 mengesampingkan ego masing-masing, yakni membuang sikap merasa lebih berhak karena berasal dari IPL atau ISL.

“Jika kami bersatu,kami pasti lebih tangguh.Bahkan, kami memiliki kekuatan lebih untuk merealisasikan ambisi mendapatkan gelar tersebut,”tandasnya. Sementara di Grup A, tuan rumah Thailand akan menghadapi Vietnam, Filipina, serta juara fase kualifikasi. Jika Thailand gagal total dua tahun lalu, kini, mereka sesumbar bisa mengembalikan kejayaan sepak bola Negeri Gajah Putih

Arema ISL Beri 2 Opsi ke Arema IPL

Kompetisi IPL maupun ISL segera berakhir. Wacana rekonsiliasi antara Arema yang berlaga di IPL dan Arema yang bermain untuk ISL terus berlanjut. Bahkan, Manajemen Arema ISL memberikan dua opsi pada Ancora yang merupakan pemilik Arema IPL.

Dua opsi itu adalah Ancora menjadi sponsor atau membeli saham Arema ISL untuk kompetisi musim depan. Media Officer Arema ISL, Sudarmadji mengungkapkan, manajemen mempersilakan bila Ancora bersedia menjadi sponsor Arema ISL musim depan.

"Beberapa sponsor untuk musim depan juga sedang menunggu. Jika Ancora ingin menjadi sponsor, kami terbuka," kata Sudarmadji, Sabtu (14/7/2012).

Memang sebelum berakhirnya liga, manajemen ISL telah membuka pintu rekonsiliasi melalui sponsor. Namun hingga kini masih belum ada inisiatif dari Ancora untuk berkenan menjadi sponsor.

Jika Ancora tidak bersedia menjadi sponsor, Ancora dipersilakan membeli saham Arema ISL. "Tapi manajemen harus minta pertimbangan pada dewan presiden klub dan konsorsium sebelum melepas saham pada Ancora," ujar Darmadji.

Kendati bagitu, Ancora juga harus siap bersaing dengan perusahaan lain bila ingin membeli saham Arema ISL. "Untuk pembelian saham ini, kami belum bisa pastikan bisa terealisasi atau tidak. Tapi kalau menjadi sponsor, Ancora bisa masuk," tukas mantan wartawan ini.

Darmaji menambahkan, penyatuan dua Arema ini sebenarnya tergantung pada jumlah kompetisi kasta tertinggi musim depan. Format kompetisi musim depan juga masih tergantung keputusan Komite Bersama yang berisi anggota PSSI versi Johar Arifin Husen dan anggota PSSI versi La Nyalla Mattalitti.

"Tetapi selama kompetisi kasta tertinggi ada lebih dari satu, dipastikan Arema tetap ada dua. Jadi kalau ingin Arema hanya satu, kompetisi juga harus satu," imbuhnya.

Sementara itu, kuasa hukum Ancora, Erpin Yuliono memastikan Ancora bersedia membuka pintu rekonsiliasi dengan Arema ISL, jika kompetisi IPL telah usai. Sedangkan Arema IPL masih memiliki sisa dua laga, yaitu kontra Persebaya dan Bontang FC.

"Setelah kompetisi berakhir, kami siap melakukan komunikasi dengan pihak-pihak yang menginginkan Arema bersatu," pungkas Erpin.

Sejarah arema vs bonek



Belum dewasanya suporter di Indonesia tentu menjadi penghambat bagi pengembangan profesionalitas klub-klub di Indonesia. Aksi anarkis yang dilakukan oleh oknum suporter menjadi salah satu faktor lambatnya pengembangan profesionalitas klub Indonesia. Belajar dari kasus rasisme Aremania beberapa saat yang lalu tentu menjadi sebuah pelajaran berharga bagi seluruh elemen suporter yang ada. Kerugian sebesar hampir 1 miliar rupiah bagi Arema tentu menjadi sebuah permasalahan tersendiri. Arema yang merupakan klub profesional tanpa dukungan dana APBD tentu kesulitan membayar gaji pemain dan lainnya. Padahal skala permasalahan baru sekitar denda dan hukuman, belum pada level anarkisme tingkat tinggi seperti perusakan stadion dan beberapa fasilitas, kerusuhan antar-suporter, hingga aksi-aksi kejahatan yang melibatkan komunitas suporter.

Salah satu pertarungan suporter yang paling sering disorot oleh media massa adalah rivalitas Aremania dan Bonek. Dua elemen suporter dari Arema Indonesia  dan Persebaya Surabaya ini memiliki tensi rivalitas yang sangat tinggi, dimana perseteruan antar kedua elemen suporter ini tak jarang berakhir dengan bentrokan, kerusuhan, kerusakan material, hingga jatuhnya korban jiwa. Ekspresi saling benci keduanya juga tertumpah ketika mendukung kesebelasan masing-masing, walaupun yang dihadapi adalah tim sepakbola selain Arema Indonesia atau Persebaya Surabaya.

Konflik Aremania melawan Bonek sudah menjadi cerita lama dalam diskusi antar-suporter di Indonesia. Pertarungan yang sudah mendarah-daging dalam kedua elemen suporter tersebut menjadi bumbu pedas dalam forum antar-suporter. Walaupun belum ada yang pernah memfilmkannya layaknya film Romeo-Juliet, tetapi aroma panas selalu terasa dalam kehidupan sehari-hari warga Malang dan Surabaya. Tidak jarang ditemui di rumah seorang Aremania segala atribut Bonek menjadi kain lap, sementara di Surabaya segala atribut Aremania menjadi keset.

Aroma panas kedua elemen ini tentu menarik untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut, karena sifat persaingannya yang begitu kental dan sudah mendarah-daging. Belum lagi pembentukan iklim sepakbola Indonesia ke arah modern tentu harus mewaspadai satu hal yang kini masih menjadi kontroversi: industri sepakbola. Modernisasi sepakbola secara tidak langsung membawa dunia sepakbola ke arah industri, dimana pada akhirnya kapital juga ikut bermain dalam menentukan suasana dan atmosfir sebuah pertandingan. Bukan tidak mungkin beberapa peristiwa yang berkaitan dengan sepakbola Indonesia hari ini berkaitan erat dengan suasana pasar ekonomi.

Selain dari perspektif industri sepakbola, tentu konflik-konflik yang timbul juga tidak luput dari permasalah sosial dan budaya dalam sebuah masyarakat. Masalah hegemoni dan pengakuan akan ‘the one and the best’ juga menjadi salah satu permasalah konflik suporter Indonesia. Persoalan chauvinisme dan fanatisme dalam sebuah masyarkat juga tidak dapat dihilangkan sebagai faktor-faktor pemicu konflik. Belum lagi soal dendam yang berasal dari peristiwa yang terjadi sebelumnya. Begitu banyak permasalahan yang timbul dalam masyarakat sehingga terbawa dalam kancah sepakbola membuat stadion masih belum menjadi tempat yang nyaman dalam menikmati pertandingan sepakbola.

Dengan mempelajari proses historis perseteruan kedua kelompok suporter ini diharapkan adanya pembelajaran serta solusi agar konflik-konflik yang terbangun menjadi sportif dan tidak anarkis. Pengkajian akan sebuah konflik dengan memandang dari perspektif sosiologi –dimana masyarakat dan kondisi kultural akan menjadi objek yang dikaji– diharapkan akan timbul sebuah mediasi entah itu berupa negoisasi atau yang lainnya. Dengan begitu posisi suporter sebagai sebuah pendukung klub akan terjadi hubungan timbal balik dengan klub yang didukung. Selain itu diharapkan pula perdamaian antar-suporter sepakbola yang ada di Indonesia dapat terjadi.



Sejarah Aremania dan Rivalitas dengan Bonek      
Tahun 1988 lahirlah Yayasan Arema Fans Club (AFC) yang didirikan oleh Ir. Lucky Acub Zaenal. Yayasan ini hadir sebagai basis kelompok suporter dari Yayasan PS Arema yang didirikan setahun sebelumnya. Tahun pertama AFC berdiri dipimpin oleh Ir. Lucky Acub Zaenal dengan 13 korwil  (koordinator wilayah) yang ada dibawahnya. Keberadaan AFC yang begitu formal dan eksklusif membuat kalangan suporter yang berasal dari kelas bawah tidak mampu menjangkau organisasi tersebut. AFC sendiri pada akhirnya belum mampu menciptakan kerukunan antar-suporter di Malang, sehingga harus dibubarkan pada tahun 1994.

Kondisi chaos dalam kota, dimana sering terjadi perselisihan antar-geng yang berlanjut ke dalam stadion membuat kota Malang menjadi sepi di kala Arema bertanding. Banyak toko-toko dan warung-warung tutup, bahkan hingga mengunci pintu dan jendela. Beberapa narasumber bahkan menceritakan bahwa ketika itu seorang suporter membawa batu, pentungan, dan golok adalah hal biasa . AFC yang belum mampu menyatukan elemen-elemen suporter yang ada di Malang akhirnya membubarkan diri. Menjelang bubarnya AFC, beberapa suporter sepakbola Malang berkumpul dan mendiskusikan mengenai Aremania. Beberapa nama seperti Handoko, Yuli Sumpil, Ovan Tobing, Leo Kailola, dan Lucky Acub Zaenal yang merupakan pentolan dari beberapa kelompok suporter PS Arema di Malang berkumpul dan mengambil keputusan bahwa Aremania didirikan dalam sebuah organisasi non-formal (tanpa bentuk) tetapi terus menjaga persatuan dan sportivitas. Sehingga sejak saat itu tidak ada ketua resmi dari Aremania.

Ketiadaan ketua bukan berarti menimbul perpecahan dalam Aremania. Kultur masyarakat Malang yang egaliter membangun kebersamaan dalam ketiadaan struktur organisasi tersebut. Prinsip “sama rata, sama rasa, satu jiwa” yang dimiliki oleh warga Malang menjadikan Aremania menjadi kelompok suporter yang memiliki kekompakan dan persatuan yang kuat. Rasa egaliter pula yang membuat Aremania kompak dan mudah dikendalikan oleh Yuli dan Kepet, dirigen Aremania saat ini.

Titik balik Aremania terjadi pada tahun 1993, pasca PS Arema menjuarai kompetisi Galatama PSSI. PS Arema yang pada tahun-tahun sebelumnya belum memiliki begitu banyak pendukung, mendapatkan perpindahan pendukung begitu banyak dari Ngalamania. Kedewasaan arek Malang akan dampak negatif dari anarkisme membawa dampak positif bagi perjalanan Aremania selanjutnya. Aremania lalu mempelopori untuk selalu hadir mengawal pertandingan Arema di kandang lawan. Dimulai dari Cimahi pada tanggal 31 Mei 1995, Aremania selalu mengikuti kemanapun Arema pergi dan mendukung sembari menularkan virus suporter damai kepada elemen-elemen suporter lawan.

Bulan Mei 1996 Aremania berani untuk melakukan lawatan ke stadion ‘musuh abadi’ untuk mendukung Arema dan menularkan virus perdamaian ke Bonek yang menjadi elemen suporter Persebaya. Aremania datang dengan pengawalan dari DANDIM Kota Malang pada pertandingan yang disaksikan oleh para petinggi PSSI dan gubernur Jawa Timur, dimana mereka menunjukkan eksistensi perdamaian yang dibawanya. Stadion Tambaksari yang dikenal ‘biadab’ karena jarangnya suporter lawan yang berani memasuki stadion tersebut akibat tekanan, intimidasi, kerusuhan, dan provokasi Bonek menjadi saksi eksistensi Aremania .


Rivalitas Malang Surabaya
Berbicara masalah persaingan dan rivalitas dua elemen suporter di Jawa Timur ini, maka kita tidak dapat mengesampingkan sejarah dan kultur sosial masyarakat masing-masing kota. Malang yang secara demografis adalah sebuah kota yang ada di pinggiran gunung, dimana pembangunan-pembangunan yang dilakukan sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda hingga zaman Orde Baru membawa kemajuan yang sangat pesat bagi kota ini. Kemajuan yang membuat masyarakatnya merasa mampu untuk menyaingi kota metropolitin sekelas Surabaya. Surabaya yang selalu dianggap ‘number one’ dalam berbagai kondisi membuat masyarakat Malang tidak terima dan menganggap arek Suroboyo adalah saingan utama mereka. Dalam tataran propinsi misalnya, dimana Malang merupakan kota kedua setelah Surabaya. Hal ini memicu kecemburuan sosial yang sangat tinggi oleh arek Malang terhadap arek Suroboyo .

Kondisi ‘tidak mau kalah’ ini membuat suhu konflik Malang-Surabaya begitu panas. Begitu juga dengan sepakbola, dimana suporter asal Malang selalu berusaha menyaingi suporter asal Surabaya. Arek Suroboyo sudah lama memiliki sifat bondho nekat, dimana pernah mereka aplikasikan dalam upaya melawan tentara sekutu dalam pertempuran 10 November 1945. Sifat bondho nekat yang masih menjadi kultur masyarakat Surabaya modern juga terbawa dalam sepakbola. Pada akhirnya, bondho nekat ini menjadikan suporter Surabaya saat itu terkesan brutal dan anarkis, seperti halnya Hooligans di daratan Eropa.

John Psipolatis pernah menyinggung akan perbedaan ‘suporter brutal’ dan ‘hooligan’ dalam kajiannya tentang sepakbola Indonesia. Ia menyatakan bahwa untuk di Indonesia lebih sesuai dengan sebutan ‘suporter brutal’, karena mereka datang ke stadion untuk menikmati pertandingan dan sesudahnya membuat onar. Sementara ‘hooligan’ belum pantas disandang oleh suporter di Indonesia karena Hooligan datang dengan niat untuk membuat kerusuhan tanpa menikmati pertandingan sepakbola.

Konflik dalam hal sepakbola dimulai sejak tahun 1967, dimana terjadi kerusuhan dalam pertandingan Liga Perserikatan antara Persebaya Surabaya melawan Persema Malang di Surabaya. Kondisi ini dibalas oleh arek-arek Malang dalam pertandingan Persema Malang melawan Persebaya Surabaya di Malang. Akhirnya, konflik suporter yang merupakan pertarungan geng Malang-Surabaya ini terus berlanjut pada tahun 70’an. Periode 80’an menjadi puncak ketegangan antara Bonek dan Ngalamania, dimana tahun 1984 terjadi ‘Perang Badar’ antara Ngalamania dengan Bonek. Peperangan yang terjadi antara Arek Malang dan Arek Suroboyo itu membuat Presiden Soeharto kala itu menyikapinya dengan ucapan “kalau sepakbola membuat persatuan hancur, lebih baik tidak usah”.

Rivalitas Bonek – Aremania
Berdirinya Armada 86 hingga berevolusi menjadi PS Arema pada tahun 1987 membuat konflik semakin memanas. Dalam kompetisi Perserikatan, Persema dan Persebaya sudah memanaskan suhu konflik antar-suporter di Jawa Timur. Dengan hadirnya Arema yang mengikuti kompetisi Galatama, suhu itu kian memanas dengan rivalitas Arema dan Niac Mitra Surabaya. Semifinal Galatama tahun 1992 yang mempertandingkan PS Arema Malang melawan PS Semen Padang di stadion Tambaksari Surabaya menghadirkan awalan baru sejarah konflik Aremania-Bonek. Arek Malang (saat itu belum bernama Aremania) membuat ulah di Stasiun Gubeng pasca kekalahan Arema Malang dari Semen Padang. Kapolda Jatim saat itu akhirnya mengangkut mereka dalam 6 gerbong kereta api untuk menghindari kerusuhan dengan Bonek.

Kejadian di Stasiun Gubeng itu membuat panas Bonek yang ada di Surabaya. Tindakan balasan mereka lakukan dengan mencegat dan menyerang rombongan Aremania pada akhir tahun 1993 saat akan melawat ke Gresik. Peristiwa ini dibalas oleh Aremania pada tahun 1996 dengan melakukan lawatan ke Stadion Tambaksari dengan pengawalan ketat DANDIM. Keberanian Aremania untuk hadir di Stadion Tambaksari kala pertandingan Persebaya melawan Arema saat itu telah membuat Bonek tidak bisa berbuat apa-apa dan harus menahan amarah mereka dengan cara menghina Aremania lewat kata-kata saja. Hal ini karena pertandingan tersebut disaksikan oleh para petinggi PSSI dan gubernur Jawa Timur saat itu, serta pengawalan ketat DANDIM kota Malang terhadap Aremania. Bagi Aremania, hal ini sudah sangat mempermalukan Bonek dengan datang langsung ke jantung pertahanan lawan sembari menunjukkan kesantunan Aremania dalam mendukung tim kesayangan. Semenjak itulah tidak ada kata damai dari Bonek kepada Aremania, dan Aremania sendiri juga menyatakan siap untuk melayani Bonek dengan kekerasan sekalipun.

Kejadian ini dibalas oleh Bonek di Jakarta pada tahun 1998. Tanggal 2 Mei 1998 dimana Aremania akan hadir dalam pertandingan Persikab Bandung vs Arema Malang, Aremania yang baru turun dari kereta di Stasiun Jakarta Pasarsenen diserang oleh puluhan Bonek. Ketika itu rombongan Aremania yang berjumlah puluhan orang menaiki bus AC yang sudah disiapkan oleh Korwil Aremania Batavia. Di tengah jalan, belum jauh dari Stasiun Pasarsenen tiba-tiba bus yang ditumpangi Aremania dihujani batuan oleh Bonek. Untuk menghindari jatuhnya korban, rombongan Aremania langsung turun dari bus untuk melawan Bonek yang menyerang mereka. Bahkan Aremania sampai mengejar-ngejar Bonek yang ada di Stasiun Pasarsenen. Tindakan Aremania ini mendapat applaus dari warga setempat, sehingga Bonek harus mundur meninggalkan area Stasiun Pasarsenen.

Kondisi rivalitas yang begitu panas antara Aremania dan Bonek membuat keduanya menandatangi nota kesepakatan bahwa masing-masing kelompok suporter tidak akan hadir ke kandang lawan dalam laga yang mempertemukan Arema dan Persebaya. Nota kesepakatan yang ditandatangani oleh Kapolda Jatim bersama kedua pemimpin kelompok suporter tersebut ditandatangani di Kantor Kepolisian Daerah Jawa Timur pada tahun 1999. Semenjak tahun 1999, maka kedua elemen suporter ini tidak pernah saling tandang dalam pertandingan yang mempertemukan kedua klub kesayangan masing-masing.

Tetapi nota kesepakatan itu tidak mampu meredam konflik keduanya. Tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan Mei 2001 menunjukkan masih adanya permusuhan kedua elemen ini. Kala itu pertandingan antara tuan rumah Gelora Putra Delta (GPD) Sidoarjo melawan Arema Malang di Stadion Delta Sidoarjo dalam lanjutan Liga Indonesia VII. Karena dekatnya jarak Surabaya-Sidoarjo membuat sejumlah Bonek hadir dalam pertandingan tersebut. Menjelang pertandingan dimulai, batu-batu berterbangan dari luar stadion menyerang tribun yang diduduki oleh Aremania. Kondisi ini membuat Arema meminta kepada panpel untuk mengamankan wilayah luar stadion. Karena lemparan batu belum berhenti membuat Aremania turun ke lapangan, sementara di luar stadion justru terjadi gesekan antara Bonek dengan aparat. Turunnya Aremania ke lapangan pertandingan membuat pertandingan dibatalkan. Terdesaknya aparat keamanan yang kewalahan menghadapi Bonek membuat Aremania membantu aparat dengan memberikan lemparan balasan ke arah Bonek. Aremania pun harus dievakuasi keluar stadion dengan truk-truk dari kepolisian.

Kejadian rusuh yang berkaitan antara Aremania dengan Bonek masih berlanjut pada tahun 2006. Kekalahan Persebaya Surabaya atas Arema Malang di stadion Kanjuruhan dalam laga first leg Copa Indonesia membuat kecewa Bonek di Surabaya. Seminggu kemudian, kegagalan Persebaya Surabaya mengalahkan Arema Malang di stadion Gelora 10 November Tambaksari Surabaya membuat Bonek mengamuk. Laga yang berkesudahan 0-0 ini harus dihentikan pada menit ke-83 karena Bonek kecewa dengan kekalahan Persebaya dari Arema Malang. Kekecewaan ini mereka lampiaskan dengan merusak infrastruktur stadion, memecahi kaca stadion, dan merusak beberapa mobil dan kendaraan bermotor lain yang ada di luar stadion. ANTV yang menayangkan pertandingan tersebut meliputnya secara vulgar, bahkan berkali-kali menunjukkan gambar rekaman mengenai mobil ANTV yang dirusak oleh Bonek. Aremania menyikapi hal ini dengan menyerahkannya secara total kepada pihak berwajib dan PSSI.

Rivalitas keduanya tidak hanya hadir lewat kerusuhan dan peperangan, tetapi juga dengan nyanyian-nyanyian saat mendukung tim kesayangannya. Bonekmania, di kala pertandingan Persebaya melawan tim manapun, pasti akan menyanyikan lagu-lagu yang menghina Arema dan Aremania. Lagu-lagu yang menyebutkan Arewaria, Arema Banci, Singo-ne dadi Kucing, dan beberapa lagu lain kerap mereka nyanyikan di Stadion Gelora 10 November Tambaksari Surabaya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Aremania, dimana lagu-lagu anti-Bonek juga mereka kumandangkan kala Arema menghadapi tim lain di Stadion Kanjuruhan. Bahkan persitiwa terbaru adalah tersiarnya kabar mengenai dikepruknya mobil ber-plat N ketika malam tahun baru di Surabaya oleh pemuda berkaos hijau (oknum Bonek?).

Atmosfir Malang – Surabaya
Seperti yang ditulis oleh Feek Colombijn dalam View from The Periphery: Football in Indonesia, dimana ia menyebut bahwa dinamika suporter di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa. Kultur Jawa yang mengutamakan keselarasan dalam harga diri, dimana penolakan yang amat sangat terhadap hal yang bisa mempermalukan diri sendiri, menjadi faktor utama konflik antar suporter di Indonesia. Kultur Jawa yang menghindar dari konflik dan tidak mau dipermalukan menjadi semacam dari anti-thesis dari sepakbola yang harus siap sedia untuk dipermalukan. Tetapi kultur Jawa pula yang memicu reaksi apabila penghinaan itu terjadi di depan umum dan sangat memalukan, maka ekspresi kemarahan dan anarkisme yang muncul untuk menjaga wibawa dan harga diri.

Kondisi ini yang memicu atmosfir panas Malang–Surabaya. Geng pemuda asal Malang yang dibantai oleh Bonek di tahun 1967 memicu perasaan dendam dari Arek Malang. Belum lagi persoalan rivalitas “number one”, dimana dalam level propinsi posisi Malang masih dibawah Surabaya. Sifat tidak terima Arek Malang menjadi nomor dua dibawah Arek Suroboyo ini membuat keduanya susah berjabat tangan. Persaingan atas dasar pride ini berlanjut pasca melorotnya prestasi Persema Malang, dimana Arema mengambil alih posisi rivalitas Malang-Surabaya tersebut.

Pergulatan harga diri ini terlihat jelas ketika Aji Santoso pindah dari Arema ke Persebaya, akhirnya Aji Santoso pun dianggap pengkhianat oleh Aremania. Ketika Aji Santoso ingin kembali ke Malang, ia pun harus melalui begitu banyak tim sebelum akhirnya mengakhiri karirnya bersama Arema Malang. Ahmad Junaedi pun menjadi korban rivalitas Aremania-Bonek. Ketika Ahmad Junaedi sudah menjadi bintang sepakbola nasional dan dibeli Surabaya, maka ketika Persebaya menawarkan Ahmad Junaedi untuk kembali ke Arema pun ditolak oleh Aremania. Akhirnya Arema pun lebih memilih untuk mengasah bakat Johan Prasetyo daripada memakai tenaga Ahmad Junaedi . Dalam hal simbol pun tantangan kepada Bonek juga dikumandangkan. Dengan pemilihan simbol singa menunjukkan bahwa di belantara Jawa Timur Arema ingin menjadi nomor satu, diatas Ikan Sura dan Buaya.

Arema menjadi identitas resistensi daerah terhadap pusat (Surabaya) , dimana melalui dialek jawa timur dengan tatanan huruf yang dibalik pada osob kiwalan khas Malang seolah menunjukkan bahwa Arema menjadi identitas kultural masyarakat Malang. Selain itu Arema juga merupakan pemersatu warga kota Malang yang sebelumnya terpecah pada beberapa desa/wilayah/daerah. Arek Malang selalu berusaha membedakan dirinya dengan arek Suroboyo. Ketika arek Suroboyo itu bondho nekad, maka arek Malang itu bondho duwit. Ketika Bonek itu suka membuat kerusuhan, maka Aremania ingin menyebarkan virus perdamaian. Konflik identitas juga menjadi lahan rivalitas kedua kubu suporter besar Jawa Timur ini.


Kapitalisme Sepakbola
Secara disadari atau tidak, fanatisme dan pertarungan kedua elemen suporter ini menjadi makanan empuk bagi kapitalisme. Sepakbola boleh jadi hari ini tidak hanya berbicara masalah sportivitas dan kesehatan, tetapi juga merambah dalam dunia politik dan ekonomi. Industri sepakbola menjadi salah satu bisnis yang menguntungkan bagi pengusaha-pengusaha kelas kakap hari ini, tentu dengan syarat mereka bisa mengendalikan iklim sepakbola itu sendiri.

Dalam hal konflik suporter di Jawa Timur, boleh jadi media massa menjadi provokator dalam berbagai peristiwa persepakbolaan di Jawa Timur. Sebagai contoh Jawa Pos misalnya, dimana secara eksplisit menyatakan keberpihakannya kepada Persebaya Surabaya. Dapat dimaklumi sebenarnya apabila melihat kantor redaksi yang berada di Surabaya serta posisi penting para pengurus Jawa Pos dalam kepengurusan Persebaya Surabaya. Dalam beberapa tulisan yang ada, Jawa Pos selalu menampilkan porsi lebih kepada Persebaya, bahkan tidak jarang dukungan kepada Bonek selalu mereka tuliskan dalam berita-beritanya.

PT Bentoel Prima Tbk yang pernah mengakuisisi Arema juga merasakan betul dampak menguntungkan bisnis sepakbola yang mereka bangun. Walaupun menghadapi hambatan begitu banyak dari pesaingnya , tetapi secara materiil PT Bentoel Prima Tbk mengalami keuntungan yang begitu besar dari sekedar pasang tulisan bentoel-arema di kaos para pemain Arema.

Bisnis sepakbola inilah yang sedang menguasai persepakbolaan modern hari ini. Di belahan dunia manapun, modernisasi sepakbola diikuti dengan berkembang pesatnya industri sepakbola. Dalam buku How Soccer Explains The World: An Unlikely Theory of Globalization, Franklin Foer menuliskan bahwa virus globalisasi telah merasuk kian dalam ke dunia sepakbola, dan faktor pride (kebanggaan/fanatisme) menjadi faktor ekonomi yang sangat menguntungkan bagi para kapitalis-kapitalis besar.

Kesimpulan
Modernisasi dalam sepakbola secara tidak langsung diikuti oleh berkembangnya kapitalisme dalam ranah sepakbola. Seolah-olah menjadi kapitalis adalah syarat mutlak untuk mengembangkan sebuah persepakbolaan dalam negeri. Melihat realitas di lapangan, bukan tidak mungkin hal diatas benar adanya. Karena ketika mengembangkan sepakbola tanpa sokongan dana yang kuat tentu akan membuat sebuah badan, klub, atau kompetisi menjadi rontok. Hanya saja kekhawatiran muncul ketika suporter sepakbola dijadikan obyek untuk mengkapitalisasi sepakbola tadi, dimana pada akhirnya suporter sepakbola juga yang dipermasalahkan.

Terkadang, berdasarkan perbincangan dengan kawan-kawan pemerhati sepakbola nasional, kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di lapangan selalu diawali orang orang yang tidak jelas siapa pelakunya. Sebagai contoh ketika terjadi kerusuhan di Madiun, baik Aremania dan Laskar Sakera (pendukung Persekabpas Pasuruan) tidak tahu menahu siapa yang memulai melempari batu-batu ke arah penonton. Tetapi karena yang hadir di stadion saat itu adalah Aremania dan Laskar Sakera, tentu pada akhirnya bentrok fisik tidak dapat dihindari. Efek pasca kejadian hari itu adalah banyaknya toko-toko yang tutup di Madiun, image PT Bentoel Arema Tbk juga tercoreng, dan entah mengapa beberapa hari sesudahnya media massa begitu laku di pasaran.

Begitu pula yang terjadi saat kerusuhan Bonek di Stadion Gelora 10 November di Surabaya beberapa tahun lalu. Dimana mau tidak mau Aremania harus mengakui bahwa kemenangan PS Arema atas Persebaya Surabaya hari itu cukup kontroversial, ada kesan wasit memihak Arema. Kemenangan 2-1 untuk Arema pun harus dibayar mahal dengan perusakan stadion dan beberapa fasilitas umum beserta kendaraan pribadi oleh Bonek yang menonton hari itu.

Begitu banyaknya tangan-tangan tak terlihat yang bermain-main diatas konflik suporter tentunya harus diwaspadai oleh Aremania maupun Bonek. Jangan sampai begitu banyak orang mati sia-sia saat pertempuran kedua suporter tersebut ternyata hanya menjadi ‘mainan globalisasi’ oleh segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan didalamnya. Untuk itulah perlunya melihat kembali sejarah konflik antar kedua elemen suporter ini, supaya kejadian-kejadian negatif dapat diminimalisir dan era baru yang lebih damai dapat tercipta.

Kultur masyarakat Jawa yang melingkupi konflik Aremania-Bonek seharusnya bukan menjadi kambing hitam atas berbagai peristiwa yang terjadi. Sudah seharusnya dua elemen suporter yang sudah dikenal akan militansinya ini berdamai dan menciptakan suasana kondusif dalam persepakbolaan nasional. Sudah saatnya baik Aremania maupun Bonek untuk mendewasakan diri dengan melihat dari kacamata modernisasi dan sportivitas dalam mendukung tim kesayangannya. Tidak ada salahnya Bonek turut bergabung dalam usaha mewujudkan suporter Indonesia damai, sehingga mampu membuat suasana stadion begitu damai dan orang tidak perlu takut untuk menyaksikan secara langsung pertandingan sepakbola di tanah air.



AREMANIA

Arema memiliki pendukung fanatik yang menamakan dirinya Aremania. Suporter setia tim berjuluk Singo Edan ini dikenal dengan kreatifitas dan loyalitasnya dalam mendukung tim Arema ketika bertanding. Suporter yang pernah dinobatkan sebagai the best supprter di tahun 2000 ini kerap menyajikan atraksi-atraksi dan kreatifitas yang luar biasa di stadion, baik ketika laga kandang maupun tandang.
Kehadiran Aremania di stadion nuansa baru bagi sepakbola Indonesia, bahkan ada celetukan bahwa  tiket pertandingan dibeli tidak hanya  tidak hanya untuk menonton pertandingan tetapi juga membeli tiket untuk menonton Aremania yang berkreasi dengan memadukan gerakan serta  nyanyian yang dilakukan secara massal yang di pimpin oleh sang dirigen, Yuli Sumpil.
Ulah sportif dan kreatif yang digalang oleh Aremania ternyata membawa dampak positif bagi perkembangan kreatifitas suporter ditanah air, suporter klub lain tak segan untuk meniru bahkan berkreasi dengan caranya sendiri dalam mendukung klub kebanggaannya, hal tersebut sedikit banyak mengurangi keributan  yang kerap terjadi ketika timnya bertanding.
Kebersamaan Aremania tidak hanya ditunjukkan ketika berada di dalam stadion, di luar stadion pun mereka juga membuktikan makna Salam Satu Jiwa dengan terlibat pada kegiatan-kegiatan sosial yang bertujuan untuk meringankan beban salah satu rekannya yang terkena musibah atau kegiatan lainnya.

Penonton Tidak Tertib, AFC Tegur PSSI

Jakarta - Sekretaris jenderal PSSI, Tri Goestoro, mengakui adanya teguran dari Konfederasi Sepak bola Asia (AFC), atas insiden yang terjadi di Riau, Kamis (5/7/12).

Sejumlah penonton melemparkan botol air minum ke lapangan saat Timnas Indonesia menghadapi Australia di Stadion Utama Riau, Pekanbaru, pada laga perdana Grup E Pra-Piala Asia U-22.

“Sudah ada teguran resmi dari AFC. Makanya kami imbau penonton untuk jadi tuan rumah yang baik,” jelas Try Goestoro, seperti dilansir situs resmi PSSI.

Pertandingan yang berakhir dengan kekalahan Indonesia 0-1 itu disaksikan sekitar 38 ribu penonton. Sejumlah pelanggaran yang dilakukan pemain Australia membuat para penonton mulai panas dan mulai melakukan pelemparan.

Penonton kian panas akibat ulah pemain Australia sepuluh menit jelang laga usai. Seorang pemain melemparkan botol yang terserak di lapangan ke pinggir, ke arah penonton. Aksi ini ditanggapi sebagai tantangan oleh sejumlah penonton sehingga lebih banyak lagi botol air minum beterbangan ke lapangan.

“Apapun alasannya, penonton tidak boleh melakukan hal-hal yang dilarang oleh aturan. Apalagi melempar sesuatu ke arah lapangan. Yang rugi kita sendiri,” tukas Tri Goestoro.

Ancaman AFC tidak main-main. Jika insiden terulang kembali, seluruh pertandingan bisa dibatalkan.

''Jadi saya imbau penonton untuk menjaga nama baik Pekanbaru, Riau dan reputasi Indonesia di mata internasional. Saya yakin dan percaya, penonton di Pekanbaru sangat menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas,” tuntasnya.

PSSI sebelumnya juga mendapat hukuman dari Komisi Disiplin AFC akibat tak mematuhi keputusan terkait pembayaran.

Solidaritas aremania jalur gaza

SALAM SATU JIWA AREMA INDONESIA AREMANIA AREMANITA SEJAGAT RAYA
DI MANA PUN BERADA

Dalam Partisipasinya Dan Solidaritas Sesama AREMANIA AREMANITA Untuk Korban musibah Kecelakaan (( sam Galih/Bujel ARemania ))
Keluarga Besar AREMANIA JALUR GAZA Berencana Mengedarkan Sticker JALUR GAZA Dengan
Imbalan Berupa Sumbangan Se Iklas Nya.
Dan Dana Hasil Dari Stiker Tersebut Nantinya Akan Di Kumpulkan Dan Di Serah Kan Kepada Keluarga Korban. semoga Rencana Ini Mendapat Ridho Allah Swt (Amin).

Bagi Dolor Dolor Yang Berminat Terutama AREMANIA AREMANITA wilayah Jalur Gaza Monggo bisa langsung menghubungi:
-Sam Borju (089 677 207 987)
-Sam Temon (085 755 259 507)
-Sam aris (085 646 383 534)
-Sam joy (087 754 447 614)

NB :
Bagi yang pengen nyumbang bisa lewat transfer ke Rek BRI 6487 0101 330 5530 (UNIT Cabang Purwosari) A/n JULIADI
#Setelah transfer harap konfirmasi by sms ke 089 677 207 987 (sam BORJU)
dan bagi yg mau nyumbang secara tunai bisa langsung konfirmasi ke tiga nomer HP admin di atas.

NOWUS HEBAK Salam Satu Jiwa

Nasib 4 Exco PSSI Ditentukan Pekan Depan

Kepastian nasib keempat anggota Komite Eksekutif PSSI yang dinilai melanggar kode etik keorganisasian akan ditentukan pekan depan. Ketua Komite Etik PSSI, Todung Mulya Lubis mengatakan, pihaknya akan segera menggelar Sidang Etik PSSI setelah terlebih dahulu mendengar keterangan Ketua Umum, dan Sekjen PSSI.

"Akan kami umumkan pada pekan depan. Kami tidak bisa menunda-nunda proses ini agar publik tidak bingung. Kami tidak ingin kesemrawutan organisasi PSSI ini mengganggu semua pihak dan membuat mereka bertanya-tanya ada apa dengan PSSI," ujar Todung saat dikonfirmasi, Jumat 2 Desember 2011.

Komite Etik PSSI sendiri saat ini tengah mengumpulkan bukti-bukti dan fakta terkait dugaan adanya pelanggaran yang dilakukan empat anggota Komite Eksekutif. Keempat anggota tersebut adalah La Nyalla Mattalitti, Tony Apriliani, Roberto Rouw dan Erwin Dwi Budiman.

Keempat anggota Komite Eksekutif tersebut diduga melakukan pelanggaran etik keorganisasian setelah mengadukan persoalan internal PSSI menyangkut kebijakan kompetisi pada AFC dan FIFA, 14 Oktober lalu. Dalam pengaduan tersebut, keempat anggota Exco melaporkan soal kompetisi yang akan diikuti oleh 24 tim, serta soal pertemuan klub-klub Divisi Utama dan Pengurus Provinsi.

Rencananya Komite Etik akan bertemu dan memeriksa Ketua Umum, dan Sekjen PSSI sore ini guna mengklarifikasi temuan mereka menyangkut kasus tersebut. Setelah memeriksa Dhohar Arifin Husin dan Tri Gustoro, Komite Etik akan melanjutkan kasus tersebut dengan menggelar Sidang Etik secepatnya.

"Kami akan periksa keduanya hari ini. Ini untuk mengkroscek semua informasi yang didapatkan dari pemeriksaan sebelumnya. Jika memang benar ada unsur pelanggaran etika yang dilakukan empat anggota tersebut, tentu akan ada sanksi. Sanksinya nanti tergantung hasil temuan dari kami," ujar Todung.

PSSI Siapkan Rp11 Miliar untuk Liga Amatir

JAKARTA - Selain Indonesian Premier League (IPL) yang akan dijalankan. PSSI juga tak lupa untuk membenahi liga di bawah IPL dan juga Divisi Utama, yaitu Divisi I, Divisi II, dan Divisi III.

Kabarnya, ketiga Divisi yang dikategorikan Liga Amatir ini akan didanai PSSI sebesar 11 Miliar Rupiah. Biaya sebesar itu rencananya akan mencakup peralatan, perlengkapan, hingga biaya untuk kepemimpinan wasit di lapangan.

Untuk divisi satu Amatir yaitu di bawah U-23, pendaftarannya ditutup 30 November 2011, begitu juga dengan divisi dua amatir U-21 dan divisi III U-19 Kick Off-nya 16 Desember.

"Sementara Divisi Utama akan digelar esok, berbarengan dengan laga IPL akhir pekan ini. Dan Kick off akan dibuka dengan pertandingan antara PSIS Semarang menjamu Persik Kediri," ujar Saleh Ismail Mukadar, selaku Deputi Sekjen Bidang Kompetisi PSSI, Jumat (25/11/2011).

Dengan begitu maka liga amatir akan terus dipantau dan tim-tim yang akan bertanding di liga amatir tersebut bisa membantu menciptakan bibit muda. Sedangkan divisi utama sendiri memiliki tiga grup dimana setiap grupnya terdiri dari 12 klub, dengan total klub yang ikut sebanyak 36 klub.

Tiket Indonesia vs LA Galaxy Sudah Bisa Dipesan

Jakarta -
Fans yang ingin menyaksikan langsung pertandingan eksebisi antara timnas Indonesia melawan LA Galaxy pada 30 November sudah bisa memburu tiketnya. Panitia mulai membuka loket pemesanan di GBK.

Fans yang ingin menyaksikan langsung pertandingan eksebisi antara timnas Indonesia melawan LA Galaxy pada 30 November sudah bisa memburu tiketnya. Panitia mulai membuka loket pemesanan di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

Yang dijual di GBK adalah voucher-nya, untuk kemudian ditukar dengan tiket pada 28-30 November. Selain di GBK, voucher bisa pula dipesan di situs rajakarcis.com.

"Kami sudah buka mulai dari pukul 10 sampai pukul 5 sore," ujar petugas bernama Cia di loket Pintu 1 Stadion GBK, Jumat (25/11/2011).

"Hari ini kami hanya menjual voucer saja, penukaran dengan tiket nanti tanggal 28 sampai 30 November," sambung dia.

Berikut ini rincian harga tiket pertandingan tersebut:

VVIP : Rp 2.200.000
VIP Timur : Rp 825.000
Kategori 1 : Rp 275.000
Kategori 2 : Rp 165.000
Kategori 3 : Rp 82.500

Aremania Sambut Arema ISL

MALANG -
Teka-teki perihal dimana tim Arema ‘Sultan Agung’ bakal berlaga akhirnya terjawab. Tepatnya saat Aremania mendapat penjelasan langsung dari Pembina Yayasan Arema, Rendra Kresna dalam sebuah acara silaturrahmi di Pendopo Kabupaten Malang, tadi malam.
Menurut pengakuan Rendra, pertemuan silaturrahmi pengurus dan Aremania ini cukup mendadak lantaran informasi terkait kejelasan status tim Arema yang berkantor di jalan Sultan Agung 9, Kota Malang ini juga mendadak. Senin (14/11) sore, manajemen baru mendapatkan surat dari PT Liga Indonesia.

’’Malam ini, kita menjawab dari berbagai macam pertanyaan Aremania, bagaimana Arema yang berkantor di Sultan Agung ini dalam kompetisi nanti. Saya menyampaikan, laga yang akan diikuti Arema Indonesia adalah ISL (Indonesia Super League, Red),’’ jelas Rendra.
Bersamaan keterangan Pembina yang juga Bupati Malang ini, disambut meriah tepuk tangan sekitar 400 Aremania yang hadir di pendopo kabupaten. Tampak perwakilan dari seluruh korwil Malang Raya ini menyambut antusias pengumuman kepastian Arema berlaga di ISL tersebut.

’’Kita berlaga di ISL alasan normatifnya. Kita sudah mendapat surat resmi dari PT Liga Indonesia, yang menentapkan Arema bermain di ISL. Alasan filosofisnya, Arema selama ini memang bertanding di ISL yang sama-sama dengan klub selevel di ISL, kita memang pantas di ISL, level kita kita memang di sistu,’’ terang Rendra.
Lebih lanjut Rendra meyakinkan, pembina akan terus memberi dorongan, spirit dan motivasi agar jajaran tim Arema bersatu padu dengan Aremania. Menurutnya, kepengurusan Arema yang ada saat ini tanpa melihat adanya kepentingan politik apapun, kecuali untuk memajukan sepakbola Indonesia.

’’Jangan harap ada dukungan politik, karena nanti bisa kecewa. Kita tahu Aremania tidak akan masuk disitu, Aremania murni pendukung olahraga. Kita harap pengelolaan Arema ditunjukkan dengan sikap profesional,’’ tegasnya.
Kepastian Arema berlaga di ISL ini pun menjadi langkah awal manajemen untuk lebih serius membangun tim. Maklum, jika sesuai agenda PT Liga Indonesia, kick off ISL rencananya 1 Desember mendatang, atau 16 hari lagi bagi tim Singo Edan menyiapkan diri.
‘’Surat dari PT Liga Indonesia baru turun jam empat tadi sore (kemarin sore, Red). Ya, menjawab surat Arema Indonesia nomor 084\ARM\IX\2011 tertanggal 18 oktober 2011, maka PT Liga Indonesia melalui surat nomor 022\liga\XI\2011 tanggal 14 November 2011 Arema Indonesia dinyatakan valid sebagai peserta kompetisi ISL 2011\2012,’’ jelas Sudarmaji, Media Officer Arema.

Menurut pria yang tadi malam sempat disebut-sebut bakal menjadi salah satu direktur itu, hanya dari pihaknya yang secara resmi mengirim surat ke PT LI. Sehingga Darmaji meyakinkan, kepastian Arema berlaga di kompetisi ISL hanya kepada Arema Indonesia yang berkantor di Sultan Agung.

‘’Kita ucapkan terimakasih kepada Aremania yang selalu memberi dukungan. Sekarang kita punya waktu 16 hari untuk mempersiapkan tim jelang kick off. Kita berharap Aremania siap, tim siap dan direksi siap. Saat ini adalah malam pertama kita untuk menghimpun motivasi bersama untuk ke ISL dan semoga Arema jauh lebih baik,’’ sebut Darmaji.
Salah satu Aremania yang menyambut gembira kepastian Arema berlaga di ISL itu adalah Iin. Aremania korwil Dinoyo ini berharap antara manajemen dan Aremania tetap bahu membahu membesarkan Arema. Sekaligus Iin berharap, Aremania tetap solid dalam memberi dukungan di stadion.

‘’Terimakasih, perjuangan yang kita impikan akhirnya membuahkan hasil setelah kita berjuang bahu membahu untuk Arema. Saya harap pada manajemen maupun panpel untuk bisa share dengan Aremania, kita berjuang sama-sama,’’ ucap Iin yang sempat mempertanyakan susunan pemain Arema di ISL.

Sementara Tembel alias Ponidi, Aremania korwil Stasiun ini berpesan pada jajaran manajemen agar menjaga amanah tim Arema ini dari awal sampai akhir. Aremania tidak ingin pengurus atau manajemen tidak tanggung jawab atau lari saat dalam kondisi kesulitan keuangan.

‘’Kita ucapkan selamat atas perjuangan yang telah membuahkan hasil ini, dimana perjuangan kita tidak ada istilah menyerah, tidak pernah lelah, kita berjuang sampai titik darah penghabisan. Pengurus harus kerja betul-betul, dan jangan segan-segan dekat dengan korwil Aremania,’’ terang Tembel yang mengaku korwil yang hadir tadi malam dari hampir seluruh penjuru Malang Raya.

sumber:malangpos

Pengurus PSSI Disumpah Hari Ini

JAKARTA -
Pengukuhan dan pelantikan pengurus Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia  (PSSI) hari ini di lakukan di jakarta, Selasa (8/11/2011). Bertempat di Ballroom Hotel Mulia Senayan, pengurus PSSI diambil sumpahnya.

Sejumlah pengurus yang hadir antara lain Ketua Umum (Ketum) PSSI, Djohar Arifin Husein, Sekretaris Jendral PSSI, Tri Goestoro dan sejumlah anggota Eksekutif Komite diantaranya Tony Apriliani dan La Nyala Mattalitti. Pengurus PSSI periode 2011-2015 datang dengan pakaian resmi berjas

Acara seremonial ini juga dihadiri Ketua Umum KONI, Rita Soebowo disaksikan Menegpora Andi Malaranggeng dan staff khusus Menegpora, Joko Pekik Irianto.

Pengukuhan ini kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bendera PSSI diserahkan Rita kepada Ketum PSSI, DJohar Arifin dalam suasana yang khidmat. Sebelum diambil sumpahnya, Rita meminta kepada seluruh pengurus untuk bekerja keras demi memajukan sepakbola Indonesia dan bukan sekedar mencari jabatan semata.

"Kami menekankan bahwa pengurus pusat PSSI adalah suatu organisasi yang mengemban misi harkat dan martabat dan kehormatan bangsa dan siap memberikan pengabdian terbaik bukan mencari kedudukan dan jabatan. Kepercayaan harus dipertanggungjawabkan untuk masa bakti 2011-2015," Rita menuturkan.

Kemudian Rita mengambil sumpah kepada pengurus PSSI: "Apakah saudara siap dan bersedia mempertanggungjawabkan kehotmatan ini?" Dengan serempak para pengurus menjawab: "Bersedia," "Saya mengukuhkan dan melantik pengurus PSSI periode 2011-2015 untuk mengabdi kepada bangsa dan negara," Rita menegaskan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Penandatangan berita acara pelantikan antara ketum PSSI dan Rita. Pelantikan ini tertuang berdasarkan surat keputusan No. 66 tahun 2011 dari KOI tentang pengurus PSSI.

Idul Adha, Pemain Arema Kebagian Kue

Hari Raya Idul Adha tinggal dua hari lagi, yakni jatuh pada hari Minggu (6/11/2011).
Tapi pelatih Arema Indonesia, Milomir Seslija, sudah merayakannya lebih dulu.

Bagaimana perayaan yang dilakukan pelatih asal Bosnia itu? Caranya ia memberikan kue kepada seluruh pemain dan seluruh official singo edan. Pemberian kue itu, cara Milo mengucapkan selamat lebaran Idul Adha.

"Bagi-bagi kue itu diberikan usai fitness bersama pemain," kata Media Officer Arema Indonesia, Noor Ramadhan, Jumat (4/11/2011).

Menurut Nunun, Milo langsung memakan kue bersama pemain dan seluruh official Arema. "Milo terbiasa dengan kultur heterogen Indonesia. Kondisi di Indonesia itu katanya sama dengan di Bosnia yang sangat menghormati dengan berbagai keyakinan yang berbeda," katanya.

Sementara itu, untuk menghormati perayaan Idul Adha, pemain Arema libur latihan sejak Sabtu (5/11/2011). "Sejak besok pemain libur latihan. Senin (7/11/2011) baru kembali latihan lagi," aku pria asal Ponorogo itu.

Pelatih, tambah Nunun, memberi waktu dan menghormati pemain agar bisa merayakan Idul Adha bersama keluarganya.

BBA_

Exco PSSI Hari Ini Rapat Tentukan Nasib IPL

Komite Eksekutif PSSI hari ini, Selasa (25/10/2011) rencananya akan mengelar rapat untuk menentukan kelanjutan kompetisi Indonesia Premier League (IPL).

Kabar tersebut dibenarkan oleh salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI Toni Aprilani. Dia menuturkan bahwa akan mengusahakan agar kompetisi IPL tetap akan kembali diikuti oleh 18 peserta karena sudah diputuskan dalam Kongres di Bali.

“PSSI tidak bisa seenaknya menambah peserta kompetisi kasta tertinggi. Penetapan jumlah peserta liga telah diputuskan pada Kongres PSSI Bali. Jadi, kalau program ini mau diubah misalnya dari 18 ke 24, harus dibahas di kongres berikutnya atas usulan exco,”

"Wajar kalau ada anggota komite eksekutif yang tidak memegang statuta PSSI dan FIFA sebagai landasan menentukan kompetisi. Tapi kalau saya ingin sesuai aturan. Kalau komite eksekutif terpecah dua, kita voting saja untuk tentukan kompetisi,” sambungnya.

Selain penambahan peserta baru tersebut dianggap melanggar Statuta PSSI, rapat nanti juga otomatis akan membahas laga perdana IPL antara Persib menghadapi Semen Padang, 15 Oktober lalu. Hasil pada pertandingan itu adalah imbang 1-1 untuk kedua tim.

“Mungkin interpretasinya saja. Tidak tahu kalau harus sampai digugurkan,” kata Toni. Jika dilihat dari sisi kedatangan AFC, lanjut dia, memang benar karena AFC memberikan waktu agar pertandingan di gelar pada 15 Oktober.

Sore Ini, 'Garuda Muda' Tajamkan Bola-bola Mati

Jakarta - Tim nasional Indonesia U-23 terus mengasah kemampuan jelang turun di SEA Games November mendatang. Inilah menu latihan 'Garuda Muda' sore ini (19/10/2011).

Pada sesi latihan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno Rabu sore, Kurnia Meiga dkk memulai sesi pemanasan seperti biasa sebelum masuk porsi latihan utama.

Pada latihan utama itu, RD mempecah dua bagian. Satu kelompok memainkan game setengah lapangan untuk bermain umpan-umpan pendek antar pemain, sedangkan kelompok satunya diasah dalam penyelesaian bola-bola mati.

Pada kloter pertama Zulham Zamrun, Djoko Sasongko dan Ferdinand Sinaga. Lalu pada kloter kedua, Andik Vermasyah dan pemain yang sekarang bermain di divisi dua Belgia, CS Vise, Yericho Christianto.

Yericho cukup menunjukan performa menjanjikan dalam penyelesaian bola mati. Pemain yang mengasah ilmu di Paraguay bersama tim nasional SAD itu beberapa kali membuat sepakan yang bagus dan menembus gawang Kurnia Meiga.

Setelah itu, pemain digabungkan pada akhir sesi untuk melakukan sit-up, back-up dan push-up lalu ditutup dengan mendengarkan instruksi dari coach RD.

Inilah Jadwal Laga Timnas U-23 di SEA Games

JAKARTA -
Timnas U-23 Indonesia yang berada di Grup A harus menerima kenyataan menghadapi lawan-lawan yang merupakan kekuatan di kawasan ASEAN. Meski demikian target emas tetap dipertahankan skuad besutan Rahmad Darmawan.

Skuad Garuda Muda diketahui akan berjumpa dengan Thailand, Singapura, Malaysia dan Kamboja. Kekuatan di grup ini terbilang setara kecuali Kamboja yang bisa dibilang tim terlemah dalam grup ini.

Egi Melgiansyah dkk akan mengawali perjuangannya dengan menghadapi Kamboja di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 9 November 2001. Diikuti duel lawan Singapura (13/11), Thailand (15/11) dan terakhir menghadapi juara bertahan, Malaysia pada 17 November.

Dua tim teratas di masing-masing grup berhak melaju ke babak semifinal yang dijadwalkan berlangsung pada 19 November dan final berlangsung pada 21 November 2011.

Berikut jadwal pertandingan di Grup A:

(9 November 2011): Indonesia vs Kamboja, Malaysia vs Singapura

(11 November 2011): Malaysia vs Thailand, Kamboja vs Singapura

(13 November 2011): Indonesia vs Singapura, Thailand vs Kamboja

(15 November 2011): Indonesia vs Thailand, Malaysia vs Kamboja

(17 November 2011): Thaliand vs Singapura, Indonesia vs lawan Malaysia

RESMI PEMAIN AREMA INDONESIA

#KIPER

~ Dede Sulaiman
~ Aji Saka ~ Kurnia Meiga.

#BELAKANG

~ Leonard Tupamahu
~ Irfan Raditya
~ Johan Alfarizi
~ Rigan Agachi
~ Hermawan
~ Fariz Bagus Dinata

#TENGAH

~ Muhammad Ridhuan
~ Esteban Guillen
~ Yoga Eka Hera
~ Roni Firmansyah
~ Herman Romansyah
~ Legimin Raharjo
~ Hendro Siswanto
~ Putut Waringin Jati
~ Roman Chmelo

#DEPAN

~ Noh Alam Shah
~ Sunarto
~ TA Musafri
~ Dendi Santoso.

#SELEKSI

~Krisuk Eko
~Kevin Tata
~Jaya Teguh Angga

OSO Rekom Arema ke ISL

Hingga kini perseteruan PSSI dengan beberapa klub peserta kompetisi masih berlanjut. PSSI melalui Ketua Bidang Kompetisi, Sihar Sitorus pun memberi batas waktu hingga 26 Oktober pada kelompok 14 (klub-klub yang menentang digelarnya Indonesian Primier League) agar menyampaikan surat resmi.

Maka kelompok 14 melalui Harbiansyah Hanafiah juru bicaranya menjelaskan bahwa mereka... akan melayangkan surat resmi ke PSSI pada 23 Oktober mendatang. Tuntutan mereka adalah kompetisi tetap dikelola PT Liga Indonesia dengan jumlah peserta 18 klub sesuai statuta PSSI. Kebetulan, usai menggelar pertandiangan Persib Bandung lawan Semen Padang yang disebut-sebut sebagai laga perdana IPL, PSSI memutuskan untuk menunda kompetisi. Sehingga jadwal pertandingan IPL yang semestinya digelar Minggu (16/10) kemarin dan Rabu (19/10) besok dipastikan batal.

PSSI sendiri belum memberi sikap resmi perihal adanya 14 klub yang menolak digelarnya IPL ini. Kemungkinan terburuk, kelompok ini bakal menggelar kompetisi sendiri atau Breakaway League seperti halnya kompetisi LPI (Liga Primer Indonesia) pada era Nurdin Halid beberapa waktu lalu.
Mereka yang tergabung dalam kelompok 14 meliputi Persebaya, Sriwijaya FC, Persipura Jayapura, Persib Bandung, Persidafon Dafonsoro, Persiwa Wamena, Persiba Balikpapan, Persela Lamongan, PSPS Pekanbaru, Pelita Jaya, Semen Padang FC, Deltras Sidoarjo, Persisam Samarinda, dan Mitra Kukar.

Sementara Arema, yang disebut-sebut bakal mengikuti kompetisi resmi dibawah naungan PSSI itu tampaknya belum sepenuhnya benar. Menyusul ada klaim dari kelompok 14, bahwa tim yang menurut PSSI resmi dikelola Muhammad Nur itu sejatinya mendapat rekom untuk gabung di kompetisi ISL.

Adalah OSO (Oesman Sapta Odang), investor Arema yang mendukung keberadaan M. Nur ini kabarnya menginginkan Arema bergabung dengan kolompok 14. Seperti disampaikan Syahril Taher, Ketua Umum Persiba Balikpapan bahwa pimpinan OSO Grup itu merekomendasikan Arema ikut kelompok 14.
"Pengelola klub Arema Indonesia yaitu Oesman Sapta Odang bilang pada saya, bahwa mereka ikut kita. Dengan demikian sebenarnya kami sudah ada 15 klub yang sepakat menentang kebijakan PSSI yang salah itu," ujar Syahril Taher mengutip keterangannya di sebuah media online.

Syahril Taher mengatakan, ke-15 klub itu, termasuk Arema, sepakat untuk memutar kompetisi sendiri karena pada dasarnya yang berkewenangan memutar kompetisi adalah klub. Sekaligus menegaskan kompetisi hanya diikuti 18 klub, bukan 24 klub seperti yang telah diputuskan PSSI.

Bahkan menurut Harbiansyah Hanafiah, jumlah 15 klub ini bisa bertambah dengan kemungkinan bergabungnya Persija Jakarta versi Ferry Paulus. Termasuk ada indikasi Persiba Bantul juga kan bergabung. Sehingga kini bergantung pada sikap dan keputusan PSSI untuk memenuhi tuntutan klub ini.

Jika tetap ngotot dengan keputusannya, maka kemungkinan besar kompetisi bakal terbelah dua. Pada posisi ini, jika benar OSO Grup yang menjadi investor Arema versi M. Nur jadi memilih kompetisi ISL, maka ada peluang untuk kembali bersatu dengan Arema versi Rendra yang memang mendukung Singo Edan ke ISL.

Sayang, hingga tadi malam, M. Nur belum bisa dikonfirmasi perihal sikap investor Arema tersebut. “Sejak awal, kami selalu berkomitmen agar Arema Indonesia hanya satu seperti yang diamanatkan Aremania,” sebut Media Officer Arema, Sudarmaji mewakili Arema versi Rendra menanggapi kemungkinan bersatunya Arema. “Keputusan PSSI yang membuat komitmen persatuan di Arema Indonesia menjadi terpecah. Kita juga bukan mengabaikan keputusan PSSI, tapi coba dicek di PT Liga Indonesia, Arema Indonesia masih terdaftar atas nama siap, ini juga menjadi momentum untuk mengecek kembali aspek legalitasnya,” sambung mantan wartawan ini.

Menurutnya, saat ini pihaknya dalam semangat menyelamatkan sepakbola nasional, termasuk reputasi Arema. Pria yang akrab disapa Darmaji ini, keliru jika Arema tidak merespon positif untuk ikut dalam kompetisi sesuai statuta. Untuk, ini bisa jadi kesempatan Arema untuk menyelesaikan persoalan verifikasi.
“Sekaligus ini momentum Arema Indonesia untuk menyatukan kembali komitmen mengikuti kompetisi yang sesuai dengan statuta PSSI, AFC dan FIFA,” yakin Darmaji yang kini menunggu regulasi dan kebijakan dari PT Liga Indonesia. Meski juga tidak menjamin, Arema versi M. Nur itu bakal ke ISL.

Setidaknya jika mengingat hubungan M. Nur dengan Arifin Panigoro selaku bos LPI yang pastinya masih mengingingkan Arema tetap di kompetisi IPL. Apalagi ada investor lain yaitu Ancora Grup yang kabarnya dalam proses mengambil alih pengelolaan Arema dari OSO Grup.