Belum dewasanya suporter di Indonesia tentu
menjadi penghambat bagi pengembangan profesionalitas klub-klub di
Indonesia. Aksi anarkis yang dilakukan oleh oknum suporter menjadi salah
satu faktor lambatnya pengembangan profesionalitas klub Indonesia.
Belajar dari kasus rasisme Aremania beberapa saat yang lalu tentu
menjadi sebuah pelajaran berharga bagi seluruh elemen suporter yang ada.
Kerugian sebesar hampir 1 miliar rupiah bagi Arema tentu menjadi sebuah
permasalahan tersendiri. Arema yang merupakan klub profesional tanpa
dukungan dana APBD tentu kesulitan membayar gaji pemain dan lainnya.
Padahal skala permasalahan baru sekitar denda dan hukuman, belum pada
level anarkisme tingkat tinggi seperti perusakan stadion dan beberapa
fasilitas, kerusuhan antar-suporter, hingga aksi-aksi kejahatan yang
melibatkan komunitas suporter.
Salah satu pertarungan suporter yang paling
sering disorot oleh media massa adalah rivalitas Aremania dan Bonek.
Dua elemen suporter dari Arema Indonesia dan Persebaya Surabaya ini
memiliki tensi rivalitas yang sangat tinggi, dimana perseteruan antar
kedua elemen suporter ini tak jarang berakhir dengan bentrokan,
kerusuhan, kerusakan material, hingga jatuhnya korban jiwa. Ekspresi
saling benci keduanya juga tertumpah ketika mendukung kesebelasan
masing-masing, walaupun yang dihadapi adalah tim sepakbola selain Arema
Indonesia atau Persebaya Surabaya.
Konflik Aremania melawan Bonek sudah
menjadi cerita lama dalam diskusi antar-suporter di Indonesia.
Pertarungan yang sudah mendarah-daging dalam kedua elemen suporter
tersebut menjadi bumbu pedas dalam forum antar-suporter. Walaupun belum
ada yang pernah memfilmkannya layaknya film Romeo-Juliet, tetapi aroma
panas selalu terasa dalam kehidupan sehari-hari warga Malang dan
Surabaya. Tidak jarang ditemui di rumah seorang Aremania segala atribut
Bonek menjadi kain lap, sementara di Surabaya segala atribut Aremania
menjadi keset.
Aroma panas kedua elemen ini tentu menarik
untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut, karena sifat persaingannya yang
begitu kental dan sudah mendarah-daging. Belum lagi pembentukan iklim
sepakbola Indonesia ke arah modern tentu harus mewaspadai satu hal yang
kini masih menjadi kontroversi: industri sepakbola. Modernisasi
sepakbola secara tidak langsung membawa dunia sepakbola ke arah
industri, dimana pada akhirnya kapital juga ikut bermain dalam
menentukan suasana dan atmosfir sebuah pertandingan. Bukan tidak mungkin
beberapa peristiwa yang berkaitan dengan sepakbola Indonesia hari ini
berkaitan erat dengan suasana pasar ekonomi.
Selain dari perspektif industri sepakbola,
tentu konflik-konflik yang timbul juga tidak luput dari permasalah
sosial dan budaya dalam sebuah masyarakat. Masalah hegemoni dan
pengakuan akan ‘the one and the best’ juga menjadi salah satu permasalah
konflik suporter Indonesia. Persoalan chauvinisme dan fanatisme dalam
sebuah masyarkat juga tidak dapat dihilangkan sebagai faktor-faktor
pemicu konflik. Belum lagi soal dendam yang berasal dari peristiwa yang
terjadi sebelumnya. Begitu banyak permasalahan yang timbul dalam
masyarakat sehingga terbawa dalam kancah sepakbola membuat stadion masih
belum menjadi tempat yang nyaman dalam menikmati pertandingan
sepakbola.
Dengan mempelajari proses historis
perseteruan kedua kelompok suporter ini diharapkan adanya pembelajaran
serta solusi agar konflik-konflik yang terbangun menjadi sportif dan
tidak anarkis. Pengkajian akan sebuah konflik dengan memandang dari
perspektif sosiologi –dimana masyarakat dan kondisi kultural akan
menjadi objek yang dikaji– diharapkan akan timbul sebuah mediasi entah
itu berupa negoisasi atau yang lainnya. Dengan begitu posisi suporter
sebagai sebuah pendukung klub akan terjadi hubungan timbal balik dengan
klub yang didukung. Selain itu diharapkan pula perdamaian antar-suporter
sepakbola yang ada di Indonesia dapat terjadi.
Sejarah Aremania dan Rivalitas dengan Bonek
Tahun
1988 lahirlah Yayasan Arema Fans Club (AFC) yang didirikan oleh Ir.
Lucky Acub Zaenal. Yayasan ini hadir sebagai basis kelompok suporter
dari Yayasan PS Arema yang didirikan setahun sebelumnya. Tahun pertama
AFC berdiri dipimpin oleh Ir. Lucky Acub Zaenal dengan 13 korwil
(koordinator wilayah) yang ada dibawahnya. Keberadaan AFC yang begitu
formal dan eksklusif membuat kalangan suporter yang berasal dari kelas
bawah tidak mampu menjangkau organisasi tersebut. AFC sendiri pada
akhirnya belum mampu menciptakan kerukunan antar-suporter di Malang,
sehingga harus dibubarkan pada tahun 1994.
Kondisi chaos dalam kota, dimana sering
terjadi perselisihan antar-geng yang berlanjut ke dalam stadion membuat
kota Malang menjadi sepi di kala Arema bertanding. Banyak toko-toko dan
warung-warung tutup, bahkan hingga mengunci pintu dan jendela. Beberapa
narasumber bahkan menceritakan bahwa ketika itu seorang suporter membawa
batu, pentungan, dan golok adalah hal biasa . AFC yang belum mampu
menyatukan elemen-elemen suporter yang ada di Malang akhirnya
membubarkan diri. Menjelang bubarnya AFC, beberapa suporter sepakbola
Malang berkumpul dan mendiskusikan mengenai Aremania. Beberapa nama
seperti Handoko, Yuli Sumpil, Ovan Tobing, Leo Kailola, dan Lucky Acub
Zaenal yang merupakan pentolan dari beberapa kelompok suporter PS Arema
di Malang berkumpul dan mengambil keputusan bahwa Aremania didirikan
dalam sebuah organisasi non-formal (tanpa bentuk) tetapi terus menjaga
persatuan dan sportivitas. Sehingga sejak saat itu tidak ada ketua resmi
dari Aremania.
Ketiadaan ketua bukan berarti menimbul
perpecahan dalam Aremania. Kultur masyarakat Malang yang egaliter
membangun kebersamaan dalam ketiadaan struktur organisasi tersebut.
Prinsip “sama rata, sama rasa, satu jiwa” yang dimiliki oleh warga
Malang menjadikan Aremania menjadi kelompok suporter yang memiliki
kekompakan dan persatuan yang kuat. Rasa egaliter pula yang membuat
Aremania kompak dan mudah dikendalikan oleh Yuli dan Kepet, dirigen
Aremania saat ini.
Titik balik Aremania terjadi pada tahun
1993, pasca PS Arema menjuarai kompetisi Galatama PSSI. PS Arema yang
pada tahun-tahun sebelumnya belum memiliki begitu banyak pendukung,
mendapatkan perpindahan pendukung begitu banyak dari Ngalamania.
Kedewasaan arek Malang akan dampak negatif dari anarkisme membawa dampak
positif bagi perjalanan Aremania selanjutnya. Aremania lalu mempelopori
untuk selalu hadir mengawal pertandingan Arema di kandang lawan.
Dimulai dari Cimahi pada tanggal 31 Mei 1995, Aremania selalu mengikuti
kemanapun Arema pergi dan mendukung sembari menularkan virus suporter
damai kepada elemen-elemen suporter lawan.
Bulan Mei 1996 Aremania berani untuk
melakukan lawatan ke stadion ‘musuh abadi’ untuk mendukung Arema dan
menularkan virus perdamaian ke Bonek yang menjadi elemen suporter
Persebaya. Aremania datang dengan pengawalan dari DANDIM Kota Malang
pada pertandingan yang disaksikan oleh para petinggi PSSI dan gubernur
Jawa Timur, dimana mereka menunjukkan eksistensi perdamaian yang
dibawanya. Stadion Tambaksari yang dikenal ‘biadab’ karena jarangnya
suporter lawan yang berani memasuki stadion tersebut akibat tekanan,
intimidasi, kerusuhan, dan provokasi Bonek menjadi saksi eksistensi
Aremania .
Rivalitas Malang Surabaya
Berbicara
masalah persaingan dan rivalitas dua elemen suporter di Jawa Timur ini,
maka kita tidak dapat mengesampingkan sejarah dan kultur sosial
masyarakat masing-masing kota. Malang yang secara demografis adalah
sebuah kota yang ada di pinggiran gunung, dimana pembangunan-pembangunan
yang dilakukan sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda hingga zaman
Orde Baru membawa kemajuan yang sangat pesat bagi kota ini. Kemajuan
yang membuat masyarakatnya merasa mampu untuk menyaingi kota
metropolitin sekelas Surabaya. Surabaya yang selalu dianggap ‘number
one’ dalam berbagai kondisi membuat masyarakat Malang tidak terima dan
menganggap arek Suroboyo adalah saingan utama mereka. Dalam tataran
propinsi misalnya, dimana Malang merupakan kota kedua setelah Surabaya.
Hal ini memicu kecemburuan sosial yang sangat tinggi oleh arek Malang
terhadap arek Suroboyo .
Kondisi ‘tidak mau kalah’ ini membuat suhu
konflik Malang-Surabaya begitu panas. Begitu juga dengan sepakbola,
dimana suporter asal Malang selalu berusaha menyaingi suporter asal
Surabaya. Arek Suroboyo sudah lama memiliki sifat bondho nekat, dimana
pernah mereka aplikasikan dalam upaya melawan tentara sekutu dalam
pertempuran 10 November 1945. Sifat bondho nekat yang masih menjadi
kultur masyarakat Surabaya modern juga terbawa dalam sepakbola. Pada
akhirnya, bondho nekat ini menjadikan suporter Surabaya saat itu
terkesan brutal dan anarkis, seperti halnya Hooligans di daratan Eropa.
John Psipolatis pernah menyinggung akan
perbedaan ‘suporter brutal’ dan ‘hooligan’ dalam kajiannya tentang
sepakbola Indonesia. Ia menyatakan bahwa untuk di Indonesia lebih sesuai
dengan sebutan ‘suporter brutal’, karena mereka datang ke stadion untuk
menikmati pertandingan dan sesudahnya membuat onar. Sementara
‘hooligan’ belum pantas disandang oleh suporter di Indonesia karena
Hooligan datang dengan niat untuk membuat kerusuhan tanpa menikmati
pertandingan sepakbola.
Konflik dalam hal sepakbola dimulai sejak
tahun 1967, dimana terjadi kerusuhan dalam pertandingan Liga
Perserikatan antara Persebaya Surabaya melawan Persema Malang di
Surabaya. Kondisi ini dibalas oleh arek-arek Malang dalam pertandingan
Persema Malang melawan Persebaya Surabaya di Malang. Akhirnya, konflik
suporter yang merupakan pertarungan geng Malang-Surabaya ini terus
berlanjut pada tahun 70’an. Periode 80’an menjadi puncak ketegangan
antara Bonek dan Ngalamania, dimana tahun 1984 terjadi ‘Perang Badar’
antara Ngalamania dengan Bonek. Peperangan yang terjadi antara Arek
Malang dan Arek Suroboyo itu membuat Presiden Soeharto kala itu
menyikapinya dengan ucapan “kalau sepakbola membuat persatuan hancur,
lebih baik tidak usah”.
Rivalitas Bonek – Aremania
Berdirinya
Armada 86 hingga berevolusi menjadi PS Arema pada tahun 1987 membuat
konflik semakin memanas. Dalam kompetisi Perserikatan, Persema dan
Persebaya sudah memanaskan suhu konflik antar-suporter di Jawa Timur.
Dengan hadirnya Arema yang mengikuti kompetisi Galatama, suhu itu kian
memanas dengan rivalitas Arema dan Niac Mitra Surabaya. Semifinal
Galatama tahun 1992 yang mempertandingkan PS Arema Malang melawan PS
Semen Padang di stadion Tambaksari Surabaya menghadirkan awalan baru
sejarah konflik Aremania-Bonek. Arek Malang (saat itu belum bernama
Aremania) membuat ulah di Stasiun Gubeng pasca kekalahan Arema Malang
dari Semen Padang. Kapolda Jatim saat itu akhirnya mengangkut mereka
dalam 6 gerbong kereta api untuk menghindari kerusuhan dengan Bonek.
Kejadian di Stasiun Gubeng itu membuat
panas Bonek yang ada di Surabaya. Tindakan balasan mereka lakukan dengan
mencegat dan menyerang rombongan Aremania pada akhir tahun 1993 saat
akan melawat ke Gresik. Peristiwa ini dibalas oleh Aremania pada tahun
1996 dengan melakukan lawatan ke Stadion Tambaksari dengan pengawalan
ketat DANDIM. Keberanian Aremania untuk hadir di Stadion Tambaksari kala
pertandingan Persebaya melawan Arema saat itu telah membuat Bonek tidak
bisa berbuat apa-apa dan harus menahan amarah mereka dengan cara
menghina Aremania lewat kata-kata saja. Hal ini karena pertandingan
tersebut disaksikan oleh para petinggi PSSI dan gubernur Jawa Timur saat
itu, serta pengawalan ketat DANDIM kota Malang terhadap Aremania. Bagi
Aremania, hal ini sudah sangat mempermalukan Bonek dengan datang
langsung ke jantung pertahanan lawan sembari menunjukkan kesantunan
Aremania dalam mendukung tim kesayangan. Semenjak itulah tidak ada kata
damai dari Bonek kepada Aremania, dan Aremania sendiri juga menyatakan
siap untuk melayani Bonek dengan kekerasan sekalipun.
Kejadian ini dibalas oleh Bonek di Jakarta
pada tahun 1998. Tanggal 2 Mei 1998 dimana Aremania akan hadir dalam
pertandingan Persikab Bandung vs Arema Malang, Aremania yang baru turun
dari kereta di Stasiun Jakarta Pasarsenen diserang oleh puluhan Bonek.
Ketika itu rombongan Aremania yang berjumlah puluhan orang menaiki bus
AC yang sudah disiapkan oleh Korwil Aremania Batavia. Di tengah jalan,
belum jauh dari Stasiun Pasarsenen tiba-tiba bus yang ditumpangi
Aremania dihujani batuan oleh Bonek. Untuk menghindari jatuhnya korban,
rombongan Aremania langsung turun dari bus untuk melawan Bonek yang
menyerang mereka. Bahkan Aremania sampai mengejar-ngejar Bonek yang ada
di Stasiun Pasarsenen. Tindakan Aremania ini mendapat applaus dari warga
setempat, sehingga Bonek harus mundur meninggalkan area Stasiun
Pasarsenen.
Kondisi rivalitas yang begitu panas antara
Aremania dan Bonek membuat keduanya menandatangi nota kesepakatan bahwa
masing-masing kelompok suporter tidak akan hadir ke kandang lawan dalam
laga yang mempertemukan Arema dan Persebaya. Nota kesepakatan yang
ditandatangani oleh Kapolda Jatim bersama kedua pemimpin kelompok
suporter tersebut ditandatangani di Kantor Kepolisian Daerah Jawa Timur
pada tahun 1999. Semenjak tahun 1999, maka kedua elemen suporter ini
tidak pernah saling tandang dalam pertandingan yang mempertemukan kedua
klub kesayangan masing-masing.
Tetapi nota kesepakatan itu tidak mampu
meredam konflik keduanya. Tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan Mei
2001 menunjukkan masih adanya permusuhan kedua elemen ini. Kala itu
pertandingan antara tuan rumah Gelora Putra Delta (GPD) Sidoarjo melawan
Arema Malang di Stadion Delta Sidoarjo dalam lanjutan Liga Indonesia
VII. Karena dekatnya jarak Surabaya-Sidoarjo membuat sejumlah Bonek
hadir dalam pertandingan tersebut. Menjelang pertandingan dimulai,
batu-batu berterbangan dari luar stadion menyerang tribun yang diduduki
oleh Aremania. Kondisi ini membuat Arema meminta kepada panpel untuk
mengamankan wilayah luar stadion. Karena lemparan batu belum berhenti
membuat Aremania turun ke lapangan, sementara di luar stadion justru
terjadi gesekan antara Bonek dengan aparat. Turunnya Aremania ke
lapangan pertandingan membuat pertandingan dibatalkan. Terdesaknya
aparat keamanan yang kewalahan menghadapi Bonek membuat Aremania
membantu aparat dengan memberikan lemparan balasan ke arah Bonek.
Aremania pun harus dievakuasi keluar stadion dengan truk-truk dari
kepolisian.
Kejadian rusuh yang berkaitan antara
Aremania dengan Bonek masih berlanjut pada tahun 2006. Kekalahan
Persebaya Surabaya atas Arema Malang di stadion Kanjuruhan dalam laga
first leg Copa Indonesia membuat kecewa Bonek di Surabaya. Seminggu
kemudian, kegagalan Persebaya Surabaya mengalahkan Arema Malang di
stadion Gelora 10 November Tambaksari Surabaya membuat Bonek mengamuk.
Laga yang berkesudahan 0-0 ini harus dihentikan pada menit ke-83 karena
Bonek kecewa dengan kekalahan Persebaya dari Arema Malang. Kekecewaan
ini mereka lampiaskan dengan merusak infrastruktur stadion, memecahi
kaca stadion, dan merusak beberapa mobil dan kendaraan bermotor lain
yang ada di luar stadion. ANTV yang menayangkan pertandingan tersebut
meliputnya secara vulgar, bahkan berkali-kali menunjukkan gambar rekaman
mengenai mobil ANTV yang dirusak oleh Bonek. Aremania menyikapi hal ini
dengan menyerahkannya secara total kepada pihak berwajib dan PSSI.
Rivalitas keduanya tidak hanya hadir lewat
kerusuhan dan peperangan, tetapi juga dengan nyanyian-nyanyian saat
mendukung tim kesayangannya. Bonekmania, di kala pertandingan Persebaya
melawan tim manapun, pasti akan menyanyikan lagu-lagu yang menghina
Arema dan Aremania. Lagu-lagu yang menyebutkan Arewaria, Arema Banci,
Singo-ne dadi Kucing, dan beberapa lagu lain kerap mereka nyanyikan di
Stadion Gelora 10 November Tambaksari Surabaya. Hal yang sama juga
dilakukan oleh Aremania, dimana lagu-lagu anti-Bonek juga mereka
kumandangkan kala Arema menghadapi tim lain di Stadion Kanjuruhan.
Bahkan persitiwa terbaru adalah tersiarnya kabar mengenai dikepruknya
mobil ber-plat N ketika malam tahun baru di Surabaya oleh pemuda berkaos
hijau (oknum Bonek?).
Atmosfir Malang – Surabaya
Seperti
yang ditulis oleh Feek Colombijn dalam View from The Periphery:
Football in Indonesia, dimana ia menyebut bahwa dinamika suporter di
Indonesia sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa. Kultur Jawa yang
mengutamakan keselarasan dalam harga diri, dimana penolakan yang amat
sangat terhadap hal yang bisa mempermalukan diri sendiri, menjadi faktor
utama konflik antar suporter di Indonesia. Kultur Jawa yang menghindar
dari konflik dan tidak mau dipermalukan menjadi semacam dari anti-thesis
dari sepakbola yang harus siap sedia untuk dipermalukan. Tetapi kultur
Jawa pula yang memicu reaksi apabila penghinaan itu terjadi di depan
umum dan sangat memalukan, maka ekspresi kemarahan dan anarkisme yang
muncul untuk menjaga wibawa dan harga diri.
Kondisi ini yang memicu atmosfir panas
Malang–Surabaya. Geng pemuda asal Malang yang dibantai oleh Bonek di
tahun 1967 memicu perasaan dendam dari Arek Malang. Belum lagi persoalan
rivalitas “number one”, dimana dalam level propinsi posisi Malang masih
dibawah Surabaya. Sifat tidak terima Arek Malang menjadi nomor dua
dibawah Arek Suroboyo ini membuat keduanya susah berjabat tangan.
Persaingan atas dasar pride ini berlanjut pasca melorotnya prestasi
Persema Malang, dimana Arema mengambil alih posisi rivalitas
Malang-Surabaya tersebut.
Pergulatan harga diri ini terlihat jelas
ketika Aji Santoso pindah dari Arema ke Persebaya, akhirnya Aji Santoso
pun dianggap pengkhianat oleh Aremania. Ketika Aji Santoso ingin kembali
ke Malang, ia pun harus melalui begitu banyak tim sebelum akhirnya
mengakhiri karirnya bersama Arema Malang. Ahmad Junaedi pun menjadi
korban rivalitas Aremania-Bonek. Ketika Ahmad Junaedi sudah menjadi
bintang sepakbola nasional dan dibeli Surabaya, maka ketika Persebaya
menawarkan Ahmad Junaedi untuk kembali ke Arema pun ditolak oleh
Aremania. Akhirnya Arema pun lebih memilih untuk mengasah bakat Johan
Prasetyo daripada memakai tenaga Ahmad Junaedi . Dalam hal simbol pun
tantangan kepada Bonek juga dikumandangkan. Dengan pemilihan simbol
singa menunjukkan bahwa di belantara Jawa Timur Arema ingin menjadi
nomor satu, diatas Ikan Sura dan Buaya.
Arema menjadi identitas resistensi daerah
terhadap pusat (Surabaya) , dimana melalui dialek jawa timur dengan
tatanan huruf yang dibalik pada osob kiwalan khas Malang seolah
menunjukkan bahwa Arema menjadi identitas kultural masyarakat Malang.
Selain itu Arema juga merupakan pemersatu warga kota Malang yang
sebelumnya terpecah pada beberapa desa/wilayah/daerah. Arek Malang
selalu berusaha membedakan dirinya dengan arek Suroboyo. Ketika arek
Suroboyo itu bondho nekad, maka arek Malang itu bondho duwit. Ketika
Bonek itu suka membuat kerusuhan, maka Aremania ingin menyebarkan virus
perdamaian. Konflik identitas juga menjadi lahan rivalitas kedua kubu
suporter besar Jawa Timur ini.
Kapitalisme Sepakbola
Secara
disadari atau tidak, fanatisme dan pertarungan kedua elemen suporter
ini menjadi makanan empuk bagi kapitalisme. Sepakbola boleh jadi hari
ini tidak hanya berbicara masalah sportivitas dan kesehatan, tetapi juga
merambah dalam dunia politik dan ekonomi. Industri sepakbola menjadi
salah satu bisnis yang menguntungkan bagi pengusaha-pengusaha kelas
kakap hari ini, tentu dengan syarat mereka bisa mengendalikan iklim
sepakbola itu sendiri.
Dalam hal konflik suporter di Jawa Timur,
boleh jadi media massa menjadi provokator dalam berbagai peristiwa
persepakbolaan di Jawa Timur. Sebagai contoh Jawa Pos misalnya, dimana
secara eksplisit menyatakan keberpihakannya kepada Persebaya Surabaya.
Dapat dimaklumi sebenarnya apabila melihat kantor redaksi yang berada di
Surabaya serta posisi penting para pengurus Jawa Pos dalam kepengurusan
Persebaya Surabaya. Dalam beberapa tulisan yang ada, Jawa Pos selalu
menampilkan porsi lebih kepada Persebaya, bahkan tidak jarang dukungan
kepada Bonek selalu mereka tuliskan dalam berita-beritanya.
PT Bentoel Prima Tbk yang pernah
mengakuisisi Arema juga merasakan betul dampak menguntungkan bisnis
sepakbola yang mereka bangun. Walaupun menghadapi hambatan begitu banyak
dari pesaingnya , tetapi secara materiil PT Bentoel Prima Tbk mengalami
keuntungan yang begitu besar dari sekedar pasang tulisan bentoel-arema
di kaos para pemain Arema.
Bisnis sepakbola inilah yang sedang
menguasai persepakbolaan modern hari ini. Di belahan dunia manapun,
modernisasi sepakbola diikuti dengan berkembang pesatnya industri
sepakbola. Dalam buku How Soccer Explains The World: An Unlikely Theory
of Globalization, Franklin Foer menuliskan bahwa virus globalisasi telah
merasuk kian dalam ke dunia sepakbola, dan faktor pride
(kebanggaan/fanatisme) menjadi faktor ekonomi yang sangat menguntungkan
bagi para kapitalis-kapitalis besar.
Kesimpulan
Modernisasi
dalam sepakbola secara tidak langsung diikuti oleh berkembangnya
kapitalisme dalam ranah sepakbola. Seolah-olah menjadi kapitalis adalah
syarat mutlak untuk mengembangkan sebuah persepakbolaan dalam negeri.
Melihat realitas di lapangan, bukan tidak mungkin hal diatas benar
adanya. Karena ketika mengembangkan sepakbola tanpa sokongan dana yang
kuat tentu akan membuat sebuah badan, klub, atau kompetisi menjadi
rontok. Hanya saja kekhawatiran muncul ketika suporter sepakbola
dijadikan obyek untuk mengkapitalisasi sepakbola tadi, dimana pada
akhirnya suporter sepakbola juga yang dipermasalahkan.
Terkadang, berdasarkan perbincangan dengan
kawan-kawan pemerhati sepakbola nasional, kerusuhan-kerusuhan yang
terjadi di lapangan selalu diawali orang orang yang tidak jelas siapa
pelakunya. Sebagai contoh ketika terjadi kerusuhan di Madiun, baik
Aremania dan Laskar Sakera (pendukung Persekabpas Pasuruan) tidak tahu
menahu siapa yang memulai melempari batu-batu ke arah penonton. Tetapi
karena yang hadir di stadion saat itu adalah Aremania dan Laskar Sakera,
tentu pada akhirnya bentrok fisik tidak dapat dihindari. Efek pasca
kejadian hari itu adalah banyaknya toko-toko yang tutup di Madiun, image
PT Bentoel Arema Tbk juga tercoreng, dan entah mengapa beberapa hari
sesudahnya media massa begitu laku di pasaran.
Begitu pula yang terjadi saat kerusuhan
Bonek di Stadion Gelora 10 November di Surabaya beberapa tahun lalu.
Dimana mau tidak mau Aremania harus mengakui bahwa kemenangan PS Arema
atas Persebaya Surabaya hari itu cukup kontroversial, ada kesan wasit
memihak Arema. Kemenangan 2-1 untuk Arema pun harus dibayar mahal dengan
perusakan stadion dan beberapa fasilitas umum beserta kendaraan pribadi
oleh Bonek yang menonton hari itu.
Begitu banyaknya tangan-tangan tak terlihat
yang bermain-main diatas konflik suporter tentunya harus diwaspadai
oleh Aremania maupun Bonek. Jangan sampai begitu banyak orang mati
sia-sia saat pertempuran kedua suporter tersebut ternyata hanya menjadi
‘mainan globalisasi’ oleh segelintir orang yang ingin mengambil
keuntungan didalamnya. Untuk itulah perlunya melihat kembali sejarah
konflik antar kedua elemen suporter ini, supaya kejadian-kejadian
negatif dapat diminimalisir dan era baru yang lebih damai dapat
tercipta.
Kultur masyarakat Jawa yang melingkupi
konflik Aremania-Bonek seharusnya bukan menjadi kambing hitam atas
berbagai peristiwa yang terjadi. Sudah seharusnya dua elemen suporter
yang sudah dikenal akan militansinya ini berdamai dan menciptakan
suasana kondusif dalam persepakbolaan nasional. Sudah saatnya baik
Aremania maupun Bonek untuk mendewasakan diri dengan melihat dari
kacamata modernisasi dan sportivitas dalam mendukung tim kesayangannya.
Tidak ada salahnya Bonek turut bergabung dalam usaha mewujudkan suporter
Indonesia damai, sehingga mampu membuat suasana stadion begitu damai
dan orang tidak perlu takut untuk menyaksikan secara langsung
pertandingan sepakbola di tanah air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar